Jodoh di Depan Rumah #08

0
201
views

Membuka pintu apartemen, Viona langsung merebahkan diri di ranjang bahkan lampu yang masih belum ia nyalakan pun tidak dipedulikan.

Viona berusaha memejamkan mata demi melupakan kejadian tadi. Namun, seiring angan yang tenggelam dalam pikirannya serta suasana yang begitu sepi justru ia semakin teringat jelas kejadian-kejadian yang dilakukan oleh kakak iparnya.

Benar-benar di luar dugaan bahwa dirinya akan bertemu dengan lelaki brengsek itu di cafe. Bahkan sampe detik ini pun sentuhan menjijikan itu masih terasa di setiap garis pipi dan tangannya. Hal itu membuat Viona semakin marah bukan hanya pada Hendra saja tapi juga pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya lemas, tangis pun mulai pecah. seraya memukul-mukul bantal dengan emosi seakan ia sudah tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Bayangan lelaki itu sudah seperti hantu yang sangat menakutkan. Sentuhannya pun begitu menjijikan, sehingga ia merasa terganggu bahkan malas untuk melakukan apapun.

Hampir 15 menit berlalu, Viona masih terbaring lemas di ranjang. Tatapannya pun kosong, ia diam meski air matanya masih terus menetes membasahi pipi.

Sesaat Viona teringat pada Renata, kakaknya. Haruskah sang kakak tau seberapa bejat kelakuan suaminya itu? Tapi bagaimana dengan keluarganya nanti? Bagaimana Bapak dan ibu menyikapi semua ini? Haruskah ia bercerita pada mereka? Sanggupkah ia melihat kebahagiaan dalam keluarganya hancur? Ia tahu kakaknya sangat mencintai lelaki itu. Jika ia bicara jujur pun pasti akan sangat sulit untuk menerima.

Di sisi lain, Brilian masih membutuhkan kasih sayang dari ayahnya. Bahkan, umurnya saja masih terlalu dini untuk sekadar tahu kelakuan ayahnya seperti apa. Ia tidak ingin memisahkan gadis kecil itu dengan sang ayah. Tidak sama sekali, namun apa boleh buat. Suatu saat pasti akan ia ungkap, apapun resikonya.

Viona mengusap wajahnya kasar seraya menghela napas berat. Pikirannya kembali berkecamuk seiring rasa bingung yang semakin mendera. Bingung harus berbuat apa lagi.

Di dalam keremangan karena lampu utama yang masih belum dinyalakan, Viona bangkit dari ranjang. Berjalan ke arah saklar untuk menyalakan lampu lalu ia bergegas mencuci muka. Usai membersihkan muka, ia duduk di tepian ranjang lalu meraih tas, mengambil ponsel. Dahinya tiba-tiba mengerut saat dua manik hitam itu tertuju pada sebuah kartu nama yang beberapa puluh menit lalu diberikan oleh seorang lelaki.

Viona menghela napas lalu perlahan bibir itu mengukir senyum. “Gilang …?” desisnya seraya menatap kartu di tangan. Ia segera membuka layar ponsel, dengan perlahan jemari lentik itu mulai memasukkan nomer telepon lalu mengetik nama.

‘Gilang Mahardika’

Setelah tersimpan, Viona membuka aplikasi WA, mengetik nama Gilang di kontak pencarian. Setelah ketemu, seketika wanita itu menyunggingkan senyum, melihat foto profil lelaki itu. Gilang tengah duduk di atas motor sport hitamnya dengan helm berada tepat di atas tangki dan kedua tangan bertumpuk di atasnya, tatapannya memicing. “Bahkan … di foto saja, kamu terlihat sinis,” desis Viona setelah melihat foto profil Gilang.

Selang beberapa detik, tiba-tiba terbesit dipikirannya untuk mengirim pesan pada lelaki itu. Dengan jantung sedikit berdebar, jemari itu mulai mengetik kata-kata.

{Assalamuallaikum…, makasih ya, tadi sudah dianterin pulang.}

Pesan sudah terkirim, Viona berharap pesan itu segera dibaca. Namun setelah beberapa detik, Ia baru sadar bahwa hal itu sangat tidak mungkin. Perjalanan yang sangat jauh dan sudah sangat larut membuatnya urung menunggu balasan.

Viona merasa kesal seolah menyesal sudah mengirimi pesan dan membuatnya menunggu lama. Akhirnya, ponsel itu ia lempar ke atas ranjang dan demi mengalihkan rasa kesalnya ia berjalan menuju pantry untuk mencari makanan ringan. Namun, setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Satu pesan WA masuk. Sepertinya, sudah ada balasan. Ia pun dengan cepat memutar badan lalu pandangannya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Melihat benda pipih itu berbunyi saja sensasinya sudah sangat luar biasa, bagaimana kalau sudah membaca balasannya? Tanpa sadar, pipinya mulai menghangat, jantungnya pun berdebar-debar tidak seperti biasanya. Viona sendiri bingung, apa yang sudah membuatnya kebat-kebit itu? Gilangkah?

Ah. Entahlah.

Selama ini memang ada banyak lelaki yang berusaha mendekati Viona namun selalu ia abaikan. Berbeda dengan lelaki yang baru saja ia kirimi pesan tadi. Sikapnya yang terlihat angkuh dan jutek itu seolah sudah berhasil mmembuatnya penasaran. Bahkan jika diingat-ingat lelaki itu tidak pernah sedikitpun sengaja melirik atau menggodanya. Dari situlah ia merasa bahwa lelaki itu memang berbeda.

Viona mengambil langkah kilat seraya mengibas rambutnya. Namun, sangking semangat ingin segera membaca pesan itu, Ia pun tidak fokus memperhatikan benda di sekitarnya dan kaki sebelah kiri pun tersandung.

Brukkk!

“Aaawwwh!” Ia pun tersungkur sambil menahan sakit.

“Begitu pentingkah pesan itu, Vi, sampai-sampai kursi saja kamu tabrak? Ahhh … sial!” Viona bergumam kesal seraya memasang wajah kesakitan.

Dengan langkah sedikit tertatih, Ia pun meraih ponsel itu lalu membuka pesan di WA.

{Walaikumsalam … ya, sama-sama.}

“Padahal cuma balasan sepele, over lebay kamu, Vi,” Viona membatin.

Viona terlihat menghembuskan napas. Untuk sesaat ia berpikir, kenapa Gilang membalas pesan dengan cepat? Tidak mungkin perjalanan yang sangat jauh itu dapat ditempuh secepat kilat. Mungkinkah dia sedang mampir ke suatu tempat? Karena penasaran, akhirnya ia putuskan untuk bertanya.

{Dimana? Apa sudah sampai? Kenapa cepat sekali? Kamu ngebut, ya? Apa nyetir sambil menulis pesan?} balas Viona penasaran.

“Sepertinya, pesan tadi agak berlebihan. Memang, aku ini siapanya? Istri bukan, pacar juga bukan. Ah. Bodo amat!”

Pertanyaan yang banyak itu Viona kirim tanpa peduli apa yang akan dipikirkan Gilang tentangnya saat ini.

•••••

Gilang baru saja duduk di teras mushola usai menunaikan sholat isya, tepatnya di sebuah Pom bensin dekat dengan apartemen Viona.
Mendapat pesan panjang kali lebar ala-ala mode istri ngambek, ia pun merasa heran. Meski pesan itu dikirim dari nomer yang tidak ia kenal, namun dari profil yang terpampang di sana, ia bisa tahu bahwa yang mengiriminya pesan adalah Viona.

“Apa semua wanita akan selalu bersikap khawatir seperti ini? Dasar! Belum jadi istriku saja sudah bawel,” gerutu Gilang.

{Ini lagi mampir sholat dulu di pom bensin. Ada pertanyaan lagi?} Gilang membalas.

Setelah beberapa detik, pesan balasan pun masuk.

“See! Tidak ada kamusnya seorang wanita membalas pesan beberapa menit kemudian. Apa setiap saat yang mereka pegang hanya ponsel saja?” Lagi Gilang menggerutu terheran-heran.

{Oh … aku pikir sudah sampe.} Viona membalas disertai emot menjulurkan lidah.

Gilang menyeringai gemas.

{Kamu belum sholat, kan?} Gilang ganti bertanya.

{Kok tau?}

{Ya, tau lah. Pasti kamu habis bengong terus nangis-nangis. Ya, kan?}

{Heemmm … dasar, sok tau!} Viona membalas.

Lagi, Gilang menyeringai. Gemas.

{Sudah sana … sholat dulu, keburu ngantuk.} perintah Gilang.

{Iya … terus …?} Viona membalas.

Membaca kalimat itu, Gilang garuk-garuk kepala yang tak gatal.

{Dah malem, kamu sholat dulu, terus tidur. Aku mau lanjut jalan. See ya.}

Akhirnya, Ia pun mengakhiri percakapan mereka, karena jika tidak segera diakhiri, wanita itu akan terus bertanya dan itu sangat membuang-buang waktu.

Ya … begitulah wanita, mereka akan selalu kuat menatap layar ponselnya seharian penuh demi berselancar di sosial media, bertemu dengan teman-teman mayanya lalu mengabaikan segala pekerjaan rumah. Miris.

Sebelum menutup ponsel, Gilang lebih dulu menyimpan nomer itu dengan menulis nama di kolom kontak.

“Bismillah.”

— Calon Istri —

•••••••••••

Membaca pesan terakahir dari Gilang, Viona tersenyum-senyum, pipinya memerah bak kepiting rebus. Tanpa berlama-lama, ia pun menurut sesuai apa yang sudah Gilang perintahkan. Ia mencuci muka lalu mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat isya.

Setelah mengucap salam, ia pun tak lupa memanjatkan doa agar diberi kemudahan dalam menghadapi masalahnya juga diberikan kesehatan dan keberkahan pada dirinya dan keluarganya.

Merasa sudah lebih baik, Viona pun bergegas tidur.

•••••••

Tiba di rumah, Gilang mengucap salam.

“Assalamuallaikum ….”

“Walaikumsalam ….” Harry dan Sherly menyahut salam Gilang bersamaan.

“Dari mana? Tumben, sampe malem?” tanya Sherly yang masih tiduran manja di pangkuan Harry sambil menonton TV.

Gilang yang tengah berjalan menuju kamar, mendadak berhenti lalu menoleh sedikit pada keduanya seraya memutar bola mata seolah risih melihat pasangan itu sedang bermesraan diusia yang sudah saatnya menimang cucu.

“Dari cafe temen,” jawab Gilang datar lalu kembali melanjutkan langkah menuju kamar.

“Oh ….” Sherly menyahut.

“Masa iya, aku jawab ‘habis nganter Viona pulang’ bisa-bisa … besok disuruh ngawinin tuh cewek.” Gilang membatin sambil berlalu.

“Sholat dulu, baru tidur!” seru Harry pada putra sulungnya sebelum benar-benar memasuki kamar.

“Udah. Tadi mampir di pom bensin sebentar.” Gilang menyahut dari arah kamar.

Berada di kamar, Gilang meletakan kunci mobil dan ponsel di atas nakas, melepas jaket lalu menggantungnya di sisi lemari. Merasa sangat lelah dan mengantuk. Lelaki itu pun bergegas mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana pendek lalu dilanjutkan membersihkan muka.

Lelaki pada umumnya akan cuek dengan kebersihan tubuhnya meski dari luar mereka terlihat rapi. Namun tidak untuk lelaki yang satu ini. Selain selalu terlihat rapi setiap harinya, ia juga sangat memperhatikan kebersihan badannya bahkan wajahnya.

Masih sibuk membersihkan muka, tiba-tiba Friska bersuara. “Bang!” seru Friska yang tengah berdiri di belakang Gilang.

Gilang menoleh dengan busa penuh diwajahnya. “Apa? Udah malem, besok aja,” sungut Gilang.

“Ih, Abang gitu deh. Besok aku berangkat pagi, Bang. Ada ekxtrakurikuler renang.”

“Terus?” tanya Gilang yang masih menggosok-nggosok pipinya.

“Heeeeee … masa enggak tau sih, Bang.” Friska menyahut penuh teka-teki. Wajah menyebalkan itu dapat Gilang lihat dengan jelas dari kaca yang menempel tepat di atas wastafel.

Namun bukan Gilang namanya jika tidak tahu apa yang membuat adiknya itu cengar cengir.

“Berapa?” tanya Gilang to the point setelah mengusap wajah dengan handuk lalu berjalan ke arah kamar.

Gadis itu berjalan mengekori langkah Gilang. Setelah tiba di dalam kamar, Friska duduk di bibir ranjang. Ia tersenyum dengan binar wajah yang semakin menyebalkan. “Ehm … 100 aja deh, heeee.”

“Nih!” Gilang menyodorkan selembaran uang berwarna merah yang baru saja ia ambil dari dompet.

“Yeeeeeee … makasih, Bang ….” seru Friska kelewat bahagia.
“Oya, Bang. Abang tau gak sih sekarang mbak Viona dimana? Kok, hampir satu minggu ini, aku enggak lihat,” tanya sang adik penasaran.

“Au.” Gilang hanya mengedikkan bahu. “Dah, sana keluar. Brisik!”

“Emang Abang enggak kangen …?” Lagi, Friska bertanya seraya mengedipkan sebelah mata. Rupanya penyakit kepo akutnya sedang kumat.

“Enggak. Brisik! Emang apa urusan Abang, mau dia nongol kek, mau enggak ya suka suka dia. Dah, sana keluar!” usir Gilang seraya mendorong tubuh adiknya keluar kamar.

“Dih … Abang jahat!” pekik Friska seraya tubuhnya terhuyun keluar kamar.

BRAK!

Pintu pun ditutup paksa oleh Gilang.

****

Pagi.

Hari ini, Viona bangun lebih awal dari biasanya. Ia berencana mengambil mobil di cafe mas Ferdi. Usai bermake up, dan mengenakan baju kantor, ia pun meraih tas di atas ranjang. Ia berjalan dengan tergesa-gesa seraya berdoa di sana tidak akan terjadi apa-apa.

“Assalamuallaikum, mas Ferdi?” Viona menelpon Ferdi untuk memastikan bahwa Gilang telah menyetujui permintaannya.

“Walaikumsalam, mbak. Ada apa ya?” jawab Ferdi.

“Gini, Mas. Alhamdulillah, mas Gilang mau memberi latihan privat pada Ratu. Saya ucapkan terima kasih banyak ya, Mas.”

“Oh. Kok bisa ajaib begitu? Gimana ceritanya? Tapi … syukur, deh. Setidaknya tugasku mulai berkurang saat ini.” Ferdi menyahut dengan sedikit gurauan.

Mendengar hal yang menurut Ferdi suatu keajaiban itu, Viona tertawa lirih.

“Sekali lagi, makasih ya, Mas. Kalau ada waktu, insyaa Allah aku main lagi ke cafe.”

“Siap.”

Keduanya mengakhiri percakapan.

Viona sengaja tak memberitahu masalah mobil yang masih ia tinggalkan di cafe pada Ferdi. Dengan tergesa-gesa, ia masuk lift lalu keluar menuju lobi. Tiba di lobi, ia buru-buru memesan taksi online. Namun, beberapa detik kemudian, tiba-tiba seseorang dari arah depan dengan cepat menarik satu tangannya. Viona mendongak lalu berjalan mengikuti langkah pemuda di depannya dengan memasang wajah bingung.

“Kamu?” ucap Viona dengan langkah terpaksa.

“Cepat masuk!” Gilang memerintah.

Viona duduk menuruti perintah Gilang. Tatapannya tak mau beralih dari wajah lelaki yang terlihat sangat terawat itu. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa lelaki ini muncul secara tiba-tiba di depan apartemennya? Sepagi ini?

“Kenapa jemput aku? Aku bisa kok ambil mobil sendiri,” ucap Viona percaya diri.

“Ga usah GR. Coba kamu liat di ujung jalan sana!” ucap Gilang sinis seraya menunjuk ke arah yang ia tunjuk.

Viona mengernyit bingung, belum mengerti apa yang di maksud Gilang. Hingga akhirnya, ia menoleh ke arah ujung jalan di depan sana.
“Hah …?” Viona mengernyit tak percaya.
“Itu kan … Mas Hendra. Mau apa lagi, sih, Dia? Heran!”

Tanpa menunggu lama, akhirnya mobil yang mereka tumpangi melesat dengan kecepatan tinggi. Sebenarnya masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas hari ini. Namun, sebelum Gilang memutuskan menjemput Viona sepagi ini, sebenarnya dari semalam ia sudah berfirasat atas rencana licik yang mungkin akan Hendra lakukan setelah melihat wanita yang digilainya pergi dengan lelaki lain. Ternyata dugaannya benar. Lelaki mesum itu sudah tiba lebih dulu di luar apartemen Viona.

Dari dalam mobil, Viona sempat menangkap ekspresi wajah Hendra yang terlihat sangat marah dan kecewa. Lelaki itu melayangkan tinju ke arah mobil sesaat sebelum mobil yang ditumpanginya melesat dengan cepat.

“Dia tahu mobil kamu masih di cafe itu, dan dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengganggumu lagi. Sekarang situasi kamu sudah tidak aman. Aku sarankan, kamu pindah dari apartemen itu dan mulai mencari rumah untuk kamu sewa. Kalau bisa … carilah yang dekat dengan tempat kerja kamu,” tutur Gilang tanpa menatap lawan bicaranya.

Viona hanya menghela napas sesaat setelah mendengar ucapan itu. Ia kembali teringat atas rencana yang sudah lama ingin ia lakukan. Yaitu, pindah ke rumah orang tuanya dan mungkin … saat ini adalah waktu yang tepat untuk segera pindah.

Keduanya masih terdiam, seolah sedang menikmati sepinya jalanan di pagi buta dengan lampu-lampu kota yang masih berpendar menerangi jalan.

“Mungkin … aku akan pindah ke rumah ibu,” lirih Viona.

Gilang yang sedari tadi cuek, tiba-tiba menoleh ke arah Viona, hingga pandangan mereka beradu. Keduanya pun tenggelam dan saling menikmati tatapan itu dalam hitungan detik. Viona tersenyum sedang Gilang hanya mematung seraya memelankan laju kendaraannya lalu dengan cepat lelaki itu menarik wajah memikatnya ke arah depan seraya menelan saliva.

“Kenapa tatapanmu benar-benar menyebalkan sekali? Memangnya kamu keberatan, kalau aku pindah ke sana? Tadi kamu nyuruh aku pindah secepatnya dan aku memilih rumah ibuku. Aku yakin, di sana pasti aku akan aman. Karena di rumah itu ada ayah dan ibu yang bisa melindungiku dari mas Hendra. Aku benar, kan?” jelas Viona seraya menatap wajah lelaki yang sedang fokus mengemudi di sampingnya dengan tatapan kesal.

“Ya … terserah kamu, mau pindah kemana.” Gilang menjawab dengan memasang wajah jutek padahal jantungnya sudah mulai berdebar tak karuan sejak mendengar wanita itu akan pindah ke rumah ibunya. Namun ia gengsi untuk meunjukkan rasa bahagia itu jadi, sebisa mungkin ia tahan agar wajahnya yang tampan itu tidak menciptakan binar bahagia.

“Aku kira … kamu akan senang, aku pindah ke sana.” Viona membatin seraya menatap Gilang dengan tatapan kecewa.

Hening.

Keduanya terdiam sepanjang perjalanan tadi, hingga mobil yang dikendarai Gilang pun akhirnya tiba di parkiran cafe.

Viona melepas sabuk pengaman. “Makasih, ya, sudah diantar sampai sini,” ujarnya seraya menoleh ke arah Gilang.

Gilang mengangguk disertai senyum kecil di bibirnya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here