Tetanggaku Rajin Minta

0
135
views

“Rin, minta cabe doonk.” Dia petik di pot langsung.

“Rin, minta minyak goreng segelas aja.” Yang dibawa mangkok bukan gelas.

“Rin, minta bawang segengngem ya.” Padahal dia bawa segembol.

“Rin, minta deterjen dikit.” Dia bawa sewadahnya.

“Rin, ini sisa sabun colek aku minta ya.” Padahal itu bukan sisa, tapi sabun yang baru aku pakai seuprit di ujung bungkusnya.

“Rin, minta korek kupingmu ini sebungkus ya,” Dia bawa sekotak, bukan sebungkus.

“Eh ada opor ayam, bagi ya,” Langsung dia ambil dari kuali, pakai mangkok besar. Mangkok pun melayang jadi miliknya. Kadang kalau diminta baru dikembalikan.

Setiap hari, Mbak Kiki, begitulah dia mengenalkan dirinya, selalu menyambangi rumahku untuk meminta sesuatu mulai dari hal remeh sampai barang-barang penting lainnya tak luput dari jarahan tangannya. Tak menunggu izin dariku, Mbak Kiki langsung mengambil apa yang dia mau lalu bergegas pulang.

Rumahnya tepat di sebelah kanan rumahku. Semula aku terkejut karena aku baru sebulan tinggal di rumah ini, tapi Mbak Kiki sudah begitu sok akrab padaku. Sementara aku bukan tipe orang yang mudah akrab pada orang baru, butuh penyesuaian diri yang cukup lama untuk akhirnya menyatakan nyaman berteman dengan seseorang. Namun sebagai warga baru sebisa mungkin aku berusaha bersikap baik kepada semua tetangga.

Kami pindah ketika Mas Hadi suamiku baru selesai merenovasi rumah ini karena sebelumnya dibeli dalam keadaan setengah jadi. Entah alasan apa si empunya sebelumnya menjual rumah ini dengan harga yang lumayan murah. Sehingga Mas Hadi tertarik untuk membelinya. Lumayan bisa irit katanya jika dibandingkan memulai membangun sendiri dari awal.

Lingkungan di daerah ini cukup asri dan sudah agak ramai. Beberapa tetangga adalah pasangan bekerja dan anak-anak yang sudah besar. Cuma aku dan Mbak Kiki yang masih memiliki balita dan tidak bekerja, hanya sebagai IRT biasa. Mbak Kiki bukan orang susah, perhiasan di badannya lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa sebenarnya ia mampu membeli tanpa harus selalu meminta apa-apa di rumahku. Katanya sih suaminya kontraktor, sedang suamiku hanya seorang pengusaha pemula, usahanya baru berjalan satu tahun.

Semakin lama aku semakin dibuat jengah pada sikap Mbak Kiki. Lebih sering aku mengurung diri di dalam rumah apabila Mas Hadi telah berangkat bekerja. Bermain dengan Davi anakku yang baru berusia tiga setengah tahun. Sebisa mungkin aku berusaha menghindar dari Mbak Kiki. Selain hobi meminta, Mbak Kiki juga hobi bergosip. Nah yang digosipin itu siapa aku juga belum terlalu kenal.

Sebagai orang baru aku tak pernah langsung percaya pada ucapan Mbak Kiki. Mana mungkin aku membenci tetangga lain hanya karena mendengar gosip dari mulut Mbak Kiki. Sedangkan aku pun belum terlalu mengenal mereka. Hanya menyapa sesekali jika kebetulan bertemu saat membeli sayur ataupun saat gotong royong ibu-ibu lingkungan RT.

Suatu hari, minggu pagi, suamiku tengah mengikuti kegiatan bersih-bersih saluran air di RT tempat tinggal kami, kegiatan rutin setiap bulan yang digagas oleh Pak RT. Tinggallah aku di rumah bersama putraku, aku baru selesai menyuapi anakku dengan lauk sayur sop ayam kesukaannya di ruang tengah sambil menonton tayangan kartun di tv, tiba-tiba Mbak Kiki masuk dari pintu depan, pasti tadi Mas Hadi lupa menutup pintu, eh tapi bisa saja memang Mbak Kiki yang sengaja masuk tanpa izin, tanpa mengucap salam meski pintu depan tertutup.

“Wa’alaikum salam Mbak,” ujarku ketika ia sudah di dalam rumah.

“Eh Rini, maaf lupa ngucap salam kirain kamu di dapur, gak bakalan dengar juga kalau aku ngucapin salam,” ujarnya sambil cengengesan. Tubuhnya yang tambun dengan warna kulit eksotis alias gelap, langsung selonjoran disampingku.

“Ada apa mbak?” sebenarnya aku malas juga bertanya apa perlunya.

“Hehee ndak ada Rin, Mbak cuma mau numpang nonton TV,”

“Lah emang TV di rumah Mbak kenapa?”

“Gak kenapa-kenapa, kemarin siang Mbak lihat kamu sepertinya beli TV baru ya?”

“TV baru? Hahhaa ngaco aja si Mbak, mana ada aku beli TV baru, tuh buktinya TV ku masih itu,” Sepertinya dia melihat kardus besar yang dibawa pulang Mas Hadi semalam. Padahal isinya bukan TV, cuma kardusnya saja bekas TV.

“Ooh bukan TV baru toh? Syukur deh, kirain kamu beli baru, eh kamu masak apa? Minta donk!”

“Aku ndak masak Mbak, tadi beli di pasar sayur sop seporsi udah habis buat sarapan,”

“Huuh padahal aku belum sarapan, ya sudah aku mau beli juga,” lalu dia bangkit menuju keluar.

“Ya sono Mbak, kalau masih sanggup beli memang sebaiknya jangan suka minta-minta,” aku bergumam pelan sambil mengemasi bekas makan anakku dan membawa ke dapur lalu mencucinya.

“Riiinn aku minta daun seledriiiii,”

Huh baru saja sampai halaman, dia sudah berteriak meminta tanaman seledriku, aku memang hobi menanam sayuran ataupun tanaman hias di halaman rumah yang lumayan luas ini. Lumayan daripada tak ada kegiatan. Tapi sepertinya sebentar lagi hasil panen sayuranku bakalan ada yang ganggu.

Sebaiknya langsung aku petik saja setelah ini. Sebelum cabai, terung, sawi, dll berpindah tangan. Susah payah kubawa para tanaman kesayanganku dari rumah sebelumnya, syukur masih mau tumbuh subur. Si Mbak enak saja setiap hari meminta hasil tanamanku. Bahkan aku sendiri masih sayang untuk memetik, menunggu benar-benar siap di penen, malah duluan tetangga.

Benar saja, esok harinya Mbak Kiki bertanya padaku dari depan pagar rumah, ia bertanya perihal tanaman cabai, terung, dan sawi di halaman rumahku yang sudah tak ada lagi.

“Rin, panen cabe ya? Kok di pot udah gak ada buahnya? Terong juga semalam perasaan masih ada. Bagi doonk!”

“Gak ada mbak, aku cuma nyisain dikit doank di kulkas, udah aku anterin ke rumah ibuku tadi malam sayuran sama cabenya,”

“iiih kamu ya pelit amat, cabe dikit doank gak mau bagi,”

“Sory Mbak, tuh kang sayur lewat, beli aja sono,” ujarku santai. Kebetulan si Akang sayur berhenti di depan pagar rumahku.

“Keluar duit deh,” ujarnya sewot, biarin lah kamu tau rasa Mbak, besok mau ku pindahin semua polibag tanaman sayurku ke belakang rumah biar dia tak bisa sembarangan metik tanamanku lagi. Karena halaman belakang rumah ada pagarnya, cuma bisa masuk melalui pintu dapurku saja. Biarlah dianggap pelit oleh orang celamitan. Bukan aku yang pelit, tapi dia yang pelit pada dirinya sediri.

“Eeh Sukiyem, lama gak nongol lu,” ujar Kang sayur.

“Iye lagi banyak stok sayur maren-maren mah Bang,”

Aku terkikik dari balik pagar ternyata Mbak Kiki punya nama asli Sukiyem, pede amat minta dipanggil Kiki, stok sayur dari Hongkong, nyomot di dapurku dan halamanku mah iya. Ku hampiri mereka lalu mengambil sekilo ayam dan tahu tempe.

“Udah nih Kang, berapa?” tanyaku pada kang sayur.

“Tiga puluh enam ribu Neng,” jawab si akang.

“Ini Kang, kembaliannya buat Akang,” kuserahkan dua lembar uang berwarna hijau.

“Hatur nuhun atuh Neng, mudah-mudahan banyak rezeki nyak,” ujar si kang sayur senang.

“Eeh, Rin buat aku aja itu empat ribu nya kan lumayan buat tambahan beli tahu,” tiba-tiba Mbak Sukiyem menyela.

“Enak aja kamu Sukiyem, utang kamu juga masih ada di saya, bayar atuuh masa rejeki saya mau kamu caplok juga,” sengit si Kang sayur. Aku terkikik lagi.

“Ya elah Kang, emang utang saya berapa? Belum sejuta kan? Sombong amat sih baru aja jadi tukang sayur,”

“Yee biarin atuh saya juga cuma tukang sayur, paling tidak saya ditungguin ibu-ibu baik tiap hari, gak kaya kamu bisanya cuma ngutang, malu atuh sama perhiasan di leher, kalau lehernya dikasi makan sayur utang,”

“Ya ampuun bac*t amat nih tukang sayur, berapa utang gue?” Mbak Kiki sepertinya sangat marah dengan kata-kata kang sayur.

“Dua ratus empat puluh rebu, sinikeun uangnya! Udah dua bulan ini jugak,”

“Nih, gue bayar dua ratus rebu dulu, sisanya kapan-kapan,” Mbak Kiki membanting duit merah dua lembar di atas tumpukan sayuran.

“Ya udah atuh kalau gitu, itu yang mau kamu beli sekarang apa?” kang sayur masih sabar juga rupanya.

“Nih. Daging sekilo, kangkung seikat, cabe setengah, bawang merah setengah, gabungin sama sisa utang aja!” ketus Mbak Kiki. Terlihat si akang memasukkan belanjaan ke dalam kantong besar, tiba-tiba si Akang berkata,

“Sukiyem itu apa di kaki kamu? Uang siapa itu jatuh?”

Reflek lah si Mbak mencari-cari uang yang disebutkan si akang, tubuh tambunnya berputar-putar sambil melihat ke bawah, lalu Kang sayur menstarter motornya dan berlalu sambil berteriak,

“Kapan-kapan aja belanjanya Sukiyeeeemm, daripada Akang bangkruuuuutttt,” lalu ia melaju dengan kencang.

“Eh Kang sayur kurang ajaaarrr, belanjaan gue wooooyy.” Mbk Kiki berusaha mengejar Kang sayur yang sudah berlalu cukup jauh. Aku tertawa ngakak melihat Mbak Kiki dikerjai Kang sayur. Rasain lu Mbak.

“Heh ngapain ketawa? Seneng lu liat gue dikerjain tukang sayur?” hardiknya melihatku terpingkal-pingkal menahan tawa sampai sakit perut

“Jarang-jarang lihat lawakan live begini Mbak, aku masuk dulu yaa. Baaayy,” aku masuk masih sambil ngakak. Lalu ku kunci pintu depan khawatir makhluk aneh sebelah rumah tiba-tiba nyelonong masuk lagi.
Tak ku hiraukan lagi Mbak Kiki yang sedang ngomel-ngomel gak jelas.

***

Selesai beberes rumah dan memasak, aku mengajak anakku makan siang sambil menonton TV. Ternyata setelah makan anakku langsung mengantuk dan tertidur. Tiba-tiba terdengar suara pintu depan digedor-gedor.

“Riiin bukain pintu Riinnn,” hmm suara Mbak Kiki, batinku. Aku tak menjawab, kubiarkan saja karena anakku baru saja tidur siang, kasihan kalau terbangun lagi gara-gara suara tetangga satu ini. Tau aja nih tetangga, waktunya makan siang, pasti mau nebeng lauk lagi.

Tampaknya Mbak Kiki menyerah setelah cukup lama gedorannya tak ku respon, hihihi sesekali harus dilawan tetangga model begini mah. Datang cuma untuk bergosip ataupun minta isi dapurku. Belum lagi rasa penasarannya yang pengen baget buka lemari kaca berisi koleksi gamisku yang ku letakkan di ruang sholat. Untung ku kunci. Pernah dia memaksaku untuk membukanya alasannya ingin lihat-lihat koleksiku. Padahal isinya tak banyak, sebagian lagi adalah mukena, bukan gamis semua.

“Buka donk Rin, aku pengen nyoba satu aja, cantik-cantik ih model gamis kamu,”

“Maaf ya Mbak, itu di dalam lemarinya di atas gantungan gamis ada laci, isinya berkas-berkas penting punya Mas Hadi, jadi kuncinya sama Mas Hadi, aku gak tau dia simpan dimana, lagian size kita beda kali Mbak, gak bakalan muat juga.” jawabku santai.

“Diiih kamu sepele banget Rin, aku sekarang langsing tauuu, ini udah turun BB akuu, bulan lalu 95 kilo sekarang tinggal 93 kilo,” aku mendadak ngakak tak terkendali.

“Wakakakkakakk 93 kilo mah bukan langsing Mbak, tapi LANGSUNG,!” ujarku sambil masih memegangi perut menahan tawa.

“Awas ya kamu ngeledekin aku lagi. Aku mau pergi sama Mas Bowo ke Moool, mau borong gamis di butik terkenaalll. Kamu gak akan sanggup deh belinya,” ujarnya sambil memonyongkan bibirnya yang bergincu merah cabe.

“Lah yo bagus atuh Mbak, beli yang banyak ya, biar gak panas lagi lihat isi lemariku, hahhaahhaahha,” ku dorong saja dia ke arah teras lalu menyuruhnya pulang, dia pun bergegas pulang. Mungkin akan mengajak suaminya langsung ke Mall buat shopping. Tetangga aneh, mendadak stress kalau lihat barang milik orang lain. Ya Tuhan, masukkan saja dia ke surga, aku malas ribut. Hahahaa.

By: Bundanya Bening Hana

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here