Skandal #01

0
362
views

“Bener, kan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” kata Bude Nanik langsung menyapa saat aku baru saja sampai di halaman rumah mertua.

Bude Nanik adalah kakak dari Ibu Mertua yang terpaut empat tahun. Walaupun Ibu mertua pada awal kedatanganku ke rumahnya selalu membicarakan Bude Nanik tapi sejujurnya ada sorot tak senang di matanya.

“Maaf, Bude. Bisa tolong diperjelas?” Bude berjalan mendekatiku, wajah sinisnya terlihat jelas. Secara perawakan Bude Nanik adalah wanita priyayi yang sangat anggun dan cantik. Siapa kira kalau wanita di depanku sudah memiliki usia kepala lima ke atas. Tubuh langsingnya body goal banget bagi wanita rentang usia dua puluhan seperti aku.

“Kurasa kau sudah tahu maksudku,” jawabnya ketus.

“Ibumu yang pengangguran itu bahkan sampai melepas sandalnya saat memasuki rumah ini,” lanjutnya semakin membuat hatiku kebat-kebit.

“Rupanya dia sangat bangga memiliki menantu kaya raya.” Aku menahan emosi dengan meremas ujung bajuku.

“Aku tak tahu, kenapa keponakanku yang lebih pantas menjadi Bapakmu itu sudi menikahi wanita sepertimu.”

“Ternyata kau menjebaknya dengan keji,” katanya sambil memegang daguku.

“Ehm.” Sebuah deheman mengagetkan kami berdua. Gugup, Bude Nanik kemudian merangkulku.

“Halo, Abimanyu,” sapa Bude Nanik basa-basi.

“Aku tak menyangka kalau istrimu begitu cantik. Kemarin waktu resepsi kecil aku tak sempat memperhatikannya,” lanjut Bude dengan penekanan pada beberapa kata, entah maksudnya apa.

“Baiklah Bude, sebentar lagi saya akan mengadakan resepsi besar-besaran agar semua orang tahu bahwa Istri baru Abimanyu sangat cantik.”

“Dan … Muda,” katanya membuat Bude Nanik tak berkutik. Entah mengapa wajahku memerah dan hatiku berdebar.

“Sekarang, tolong izinkan kami melanjutkan acara sarapan pagi dengan Mama.” Kami mengangguk dan berlalu. Kusimpan senyum di mulutku terlebih saat Mas Abimanyu mendekapku erat sembari berjalan beriringan. Sudah pasti wajah Bude Nanik tertekuk menahan geram.

***

Seminggu lalu ….

Kepalaku pening seolah terantuk benda keras. Saat aku berhasil membuka mata, ya Tuhan. Tubuhku polos tanpa busana.

Lebih mengagetkan lagi seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar berkemeja biru sudah duduk di tepi ranjang. Dia berbalik saat aku terpekik.

“Jangan panik. Kujamin ini hanya salah paham. Hanya saja ….”

“Di depan sana, puluhan wartawan haus berita sudah berjaga.”

“Menunggu mangsa,” lanjutnya.

“Ikuti saja skenarioku dan kita akan aman,” jelasnya. Saat aku menatap manik matanya ada kesungguhan di sana yang membuatku mengangguk pasrah.

“Sebentar lagi sekretarisku akan datang. Dia akan membawakanmu baju yang pantas. Aku akan berbalik, saat itu pergilah ke kamar mandi. Periksa saja apakah ada bagian tubuhmu yang terkoyak,” katanya jahil. Aku menuruti sambil memasang wajah kesal.

Saat di kamar mandi kudengar pintu diketuk. Lelaki misterius itu memberikan sepasang baju kepadaku yang bersembunyi di balik pintu.

Aku menutup kembali saat tangannya sudah ke luar. Begitu aku melihat baju itu rasanya baju ini baru turun dari surga. Lengan panjangnya yang terbuat dari kain satin sangat lembut saat disentuh, kerahnya yang berenda sangat cantik, rok plisketnya yang sempurna potongannya akan membuat ramping pemakainya. Hampir saja aku terpeleset saat melihat harga baju dalam tag. Harganya melebihi gajiku di swalayan setiap bulan.

Ragu, tapi akhirnya kupakai juga. Begitu keluar kamar mandi lelaki itu langsung memegang tanganku dan mengajakku keluar kamar. Seorang lelaki berdiri di belakang kami.

“Ikuti saja permainan ini, kau tidak akan rugi,” katanya sambil berbisik.

Terpaksa, akupun mengangguk.

“Jangan ucapkan sepatah katapun,” lanjutnya hingga kami masuk ke dalam sebuah lift.

Aku mulai tak enak, hatiku menghitung jumlah lantai yang akan kami lalui. Saat tiba di lantai dasar di mana lobi hotel sudah begitu ramai dengan wartawan persis seperti ucapannya. Blitz kamera berulang kali membidik wajah kami. Aku ketakutan.

Lelaki itu menyadari gelagatku, dia kemudian memelukku.

Sambil berteriak lantang.

“Tolong, minggir!”

“Biarkan istriku lewat.”

Kemudian semua seperti dunia yang berjalan sangat lambat. Kupandangi wajahnya yang memancarkan ketegasan. Dia jauh lebih tua di atasku tapi aku bahkan tak tahu harus bagaimana.

Sejak hari itu aku adalah istrinya di depan banyak orang.

Sehari setelahnya aku menjadi istrinya dengan akad Sirri, dan seminggu setelahnya aku sudah menyandang nama Nyonya Abimanyu.

Hal ini sangat rumit dan memusingkan.

Terkadang setiap pagi, saat aku terbangun dari tidur, aku berharap bahwa semua ini hanya sebuah mimpi.


Bersambung

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here