Seputih Hatimu Kartini #04

0
181
views

“Nduk, Kartini. Bapak sekarang sudah tidak ada. Jika kamu tetap tinggal di pesantren bagaimana, Nak?” Suara Emakku terdengar samar di telinga. Mataku terlalu lelah menahan kantuk seharian maka aku mengangguk saja.

“Bukan karena Emak tidak sayang, tapi karena Emak ingin Kartini jadi anak yang hebat. Didikan Emak hanya seputar sawah dan rumah. Tapi didikan pesantren bisa membawa Kartini melihat cakrawala.” Emak bersuara lagi, tapi perut kenyang dan mata lelah akhirnya membawaku terbang ke alam mimpi.

Dua tahun berikutnya saat Emak menyusul Bapak kembali kepada Tuhan, aku baru tahu apa artinya didikan pesantren yang dimaksud Emak.

Kerelaan hati, salah satunya.

****

Mata Gus Azzam tak berkedip kepadaku sekian detik. Rasanya hal ini sangat perlu sekali kurayakan dalam hati. Gus yang sok keren dan sok pahlawan itu akhirnya memandangku sebagai lawan jenis, bukan lawan tanding.

Pikiranku seperti itu hingga sepuluh menit kemudian saat tiba di ndalem Bu Nyai. Tapi, setelah itu sikap sombongku dalam hati dibayar kontan oleh Allah.

“Nduk, Bu Kartini yang cantik,” kata Bu Nyai memanggilku dengan melambaikan tangan mengisyaratkan agar aku mendekat.

“Masuk ke kamar Ibu sebentar,” perintah beliau. Netra mataku memandang kamar beliau yang bercat hijau dengan kelambu di depan pintu berwarna senada.

Sudah lama rasanya tidak memasuki kamar itu. Dulu, sering Ibu meminta dipijat oleh Yu Sarinah dan aku yang membalurkan minyak telon ke tubuh beliau.

Tentu, aku masih hafal.

“Tunggu saya sebentar ya,” bisik beliau dan kujawab dengan anggukan.

Ya Allah, rasanya berdebar-debar menunggu Bu Nyai datang. Kiranya apa yang hendak disampaikannya sampai harus masuk ke dalam kamar.

Lalu, semua jelas.

Bu Nyai masuk ke dalam kamar sambil menahan tawa. Ditariknya tanganku ke depan cermin yang nempel di lemari beliau. Bu Nyai semakin lebar tertawanya.

Akupun juga. Tapi ingin menangis setelahnya. Bagaimana tidak, ternyata dari tadi Gus Azzam memandangku tanpa berkedip karena dia ingin memastikan satu hal.

Baju blazer yang kupakai dengan percaya diri dari kamar pondok tadi adalah baju yang terbalik.

Bukan karena dia terkesima kepadaku. Astaghfirullah. Maafkan egoku yang sombong tadi ya Allah. Berkali-kali aku mengucap maaf kepada Tuhan, karena terlalu cepat mendahului takdir Tuhan.

Satu lagi, aku menangis di bawah bantal saat kembali ke kamar.

Tangis bahagia juga tangis karena sedih. Kebahagiaanku karena Bu Nyai memberikan satu cincin sebagai pengikat hubungan antara Gus Azzam dan aku yang ternyata memang benar adanya, tapi tangisku yang lain dikarenakan Gus Azzam mencegahku menuju kompleks pondok dengan ancaman.

“Kembalikan cincin itu ke Ibu, atau aku menjadi musuh abadimu di sekolah maupun di pondok,” katanya. Matanya menatap langit tapi suaranya menusuk ke dalam jantungku yang paling dalam.

“Satu lagi ….”

“Hatiku sudah terisi seorang wanita. Apakah aku harus menjadikan wanita itu kalah karenamu?”

Gus Azzam menancapkan tusukannya yang kedua, membuat dadaku luka tanpa berdarah.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here