Sepiring Tulang Ayam

0
167
views

“Aku sayap, aku sayap!”
“Aku dada!”
“Aku yang dada, kan bulan lalu kakak udah kebagian dada!”
“Ya udah tukeran.”
“Aku paha yaa jangan ada yang ambil!”

“Kepalanya sisain yaaaa buat bapak kalian!” Kudengar suara mak menimpali keriuhan saudara-saudara ku yang berebutan ayam bakar.
Ya, bukan karena kami suka ayam bakar tapi memang hanya bisa dibakar di atas bara api, karena tidak pernah beli minyak goreng.

Dari lahir, kami bersaudara yang berjumlah 8 orang tinggal di sebuah pondok tua, di dalam hutan yang jaraknya sekitar 2 jam berjalan kaki ke desa terdekat.
Melintasi hutan, sungai, bertemu binatang-binatang hutan itu sudah biasa.

Tidak ada tetangga, tidak ada listrik, tidak ada kasur. Hampir semua yang kami pergunakan berasal dari alam.
Kami tidak mengenal sabun, odol, sikat gigi, dan semua kebutuhan rumah tangga.

Pakaian yang kami kenakan kebanyakan dari kulit kayu, ada beberapa pakaian dari kain, itupun didapat dari hasil menukar beras dan sayur yang sesekali di bawa oleh bapak dan abang-abang ke desa terdekat.

Aku tidak mengenal gelas, untuk minum kami menggunakan buah labu matang yang sudah dikuras isinya dan dijemur kering.

Untuk mandi kami menggunakan rumput sabun, entah apa namanya tanaman tersebut, tetapi kalau di gosok dengan air akan mengeluarkan busa. Itulah yang kami gunakan untuk menggosok badan.

Semua makanan kami dapatkan dari alam, memelihara ayam beberapa ekor, berburu dan bercocok tanam.

Nikmat, ya, tentu saja karena hanya itu yang kami tau.

Mainanku?
Boneka? Apa itu boneka!
Mainanku adalah ular sawah yang giginya sudah dikikir supaya tidak menggigitku.
Seram kan tapi lucu kog. Ularnya gendut dan tidak galak.
Kalau mati, aku akan nangis berhari-hari, sampai abangku mendapatkannya lagi.

Entah kenapa bapak dan emak memilih tinggal di dalam hutan, kami tidak pernah bertanya, tapi bapak setiap malam sebelum tidur sering cerita tentang kerja keras.
Hidup itu harus kerja keras, jangan mengharapkan pemberian orang lain, jangan pernah meminta.
Dan memang bapak kerja dari subuh ketemu malam.
Tidak pernah mengeluh, dan satu yang luar biasa, bapak tidak pernah marah!

Setiap hari bapak membuka lahan, dan membuka lahan, untuk menanam padi dan karet.
Kami harus bangun jam 4 subuh untuk ikut ke kebun.

“Bapak pulang, bapak pulang!” Teriak adikku.

“Makan pak, itu tadi masih ada kepala ayam!” Kata mak.
“Yaah sudah kumakan mak, tadi aku gak kebagian, jadi kumakan kepala ayamnya!” Jawab abangku yang tertua.

“Ya sudah gak apa-apa tadi bapak sudah makan di kebun, masih kenyang!” jawab bapak lembut, hampir tak terdengar.

Kulihat bapak ke dapur, sekilas kulihat bapak memegang piring-piring bambu yang kami gunakan untuk makan tadi.

“Bapak lagi apa?” Tanyaku.
“Ooo ini biar bapak cuciin piring-piring ini,”
“Aku aja pak, tadi belum sempat nyuci,” jawabku.
“Udah gak apa-apa, kamu main saja sana!”

Usiaku 7 tahun saat itu.

Selesai bermain aku tak sabar mencari bapak, ada jambu yang sudah matang di atas pohon ingin kuperlihatkan ke bapak.

Mataku nanar, kulihat sosok rapuh itu, dengan tubuh kurusnya, rambut mulai memutih, duduk di pojok dapur.

Ditangannya terlihat sepiring tulang-tulang ayam, di kunyah dengan lahap dan nikmatnya.
Bapak kelihatan lapar sekali, sehingga tidak menyadari kehadiranku yang memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

🌹🌹🌹

Mengenang bapak yang lagi sakit, usia 80 tahun, semoga cepat sembuh, umur panjang, miss you bapak.

by : Marrieanne’s

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here