Jodoh Itu Misteri #26

0
211
views

Pagi-pagi sekali, saat udara terasa begitu dingin tak seperti biasanya, Rangga memutuskan untuk keluar dari rumah Maya. Secarik kertas telah ia tinggalkan untuk wanita yang beberapa jam lalu mengangguk setelah diajak menikah olehnya. Ia meninggalkan rumah itu lalu pergi dengan memesan taxi.

Tiba di rumah sang mamah pukul 5 pagi, lelaki itu pun memencet bel, selang beberapa menit, seorang pelayan paruh baya keluar. “Tuan? Kenapa pagi sekali? Ibu sehat-sehat saja tuan.”

“Nggak papa, bi. Aku ada penting sama mamah bentar sebelum berangkat kerja. Mamah masih tidur bi?” sahut Rangga seraya melepas jaket lalu meletakkan koper disisi ruang tamu, setelah itu berjalan menaiki tangga menuju kamar mamahnya.

“Sepertinya sudah bangun daritadi. Mungkin sedang sholat, tuan.” timpal wanita paruh baya yang telah lama mengabdikan dirinya bekerja di rumah besar itu.

“Mah,” Rangga menghambur kepelukan sang mamah. “Terimakasih sudah mendoakan aku. Terimakasih… ” Lelaki yang bertubuh lebih tinggi dari mamahnya itu berkali-kali mencium kening sang mamah.

“Ada apa, nak? Kita sholat dulu, sebelum waktu shubuh habis.” titah sang mamah sambil membetulkan posisi mukena yang sedikit tersingkap karena pelukan buah hatinya yang tiba-tiba itu.

Rangga tersenyum lalu mrngangguk. Ia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sejenak.

“Assalamuallaikum Warohmtullahi wabarakatuh”

Setelah keduanya sholat bersama dan diakhiri dengan salam, Rangga pun mencium punggung tangan sang mamah.

“Ada apa? Kenapa pagi sekali kamu datang? Bukankah kamu harusnya masih ada di Jakarta?” Rangga diberondong pertanyaan dengan posisi mereka yang kini berhadap-hadapan.

“Terima kasih atas doa-doa mamah yang tanpa henti sampe saat ini. Selama ini aku merasa terpuruk, putus asa dengan keputusan yang dulu pernah kuambil. Tapi ternyata Allah masih bersama denganku, Allah masih peduli padaku. Selama ini Vina tengah mengandung bayi dari teman lelakinya. Kepergianku ke Jakarta kemaren bukanlah urusan bisnis, tapi lebih kepada ingin tau apa yang Vina sembuyikan dariku selama ini. Karena beberapa kali, aku melihat dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Akhirnya aku penasaran, berbekal informasi dari orang suruhanku juga ketidaksengajaanku ketika melihat dia masuk kesebuah rumah sakit di Jakarta. Dari situlah semua terbongkar, ternyata dia terbukti berkhianat. Aku benar-benar lega sudah melepaskannya, mah” jelas Rangga, kini kepalanya ia telungkupkan dipangkuan sang mamah.

“Syukurlah, ibu ikut merasa lega. Selama ini, mamah terus dibayang-bayangi sikap Vina yang begitu emosianal. Alhamdulillah, Allah sudah memberi jalan untuk kita.” ucap sang mamah sambil menitikkan air mata. Rangga melihatnya lalu dengan cepat ia menyekanya.

“Lalu bagaimana dengan Maya?” tanya sang mamah masih terisak.

“Mah, semalam aku sudah melamarnya. Jam 10 nanti aku sudah janji mamah dan mbak Sarah datang kesana. Bisa kan, mah? ”

“Syukurlah, secepatnya akan lebih baik. Mamah tau Maya wanita yang baik. Insya Allah kamu tidak salah pilih, ngga.” balas sang mamah seraya meraup wajah Rangga yang tersenyum kecil.

“Mamah harus bawa apa kesana, ngga?”

“Mamah dan mbak Sarah bersiap-siap saja. Biar aku yang mengurus semuanya. Nanti kalian datang saja ke rumahku Jam 10, tolong sekalian Om dan Tante diberi tahu,” pinta Rangga sambil melipat sajadah yang sudah ia pakai sholat tadi.

*********

Suasana terlihat berbeda di rumah Maya. Ia nampak kelelahan, sibuk membersihkan segala perabot rumahnya. Mulai dari menyapu lantai, menyapu halaman rumah juga menyirami semua bunga ditaman agar tampak segar mengingat akan ada tamu spesial yang datang. Tak lupa ia pun mencuci segala macam tea set juga membersihkan segala toples jajan agar bersih ketika diisi jajanan nanti. Belum sempat mandi, Maya pun pergi ke super market, memilih berbagai snack juga buah-buahan yang ia kira pantas disuguhkan untuk bosnya juga keluarga besarnya.

Pukul 8.30, akhirnya semua pekerjaannya selesai. Sepintas wajahnya nampak panik, Maya melirik kedepan, menunggu keluarganya yang tak kunjung pulang. Ia putuskan untuk mengunci rumahnya dulu lalu mandi dan bersiap-siap.

Setelah selesai mandi, kini Maya sibuk memilih baju. Mulai dari tumpukan atas hingga bawah, ia merasa tidak ada gaun yang pas. Sampe pada akhirnya ia menemukan gamis yang ia beli lebaran beberapa bulan lalu. Baru satu kali ia memakainya. Ntah apa yang membuatnya ingin sekali memakai gamis itu didepan Rangga dan keluarganya. Secara selama ini, ia tak pernah mengenakan hijab didepan umum. Semoga piihannya kali ini tepat. Gamis berwarna kuning gading berenda juga jilbab kuning kunyit persegi motif bunga-bunga menjadi pilihannya untuk menemui Rangga dan keluarga besarnya nanti. Ia mulai mengenakan bajunya lalu menggunakan make up soft agar tidak terlihat menor lalu dilanjut memakai jilbabnya. Setelah gamis dan hijab itu membalut tubuh dengan sempurna, sekali lagi ia bercermin, memastikan dirinya tampil maksimal. Maya tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Cantik dan tampak anggun.

Selesai berdandan, Maya keluar ke ruang tamu. Ia duduk sambil sesekali meraba dadanya, merasa belum percaya bahwa sebentar lagi akan ada tamu istimewa datang meminangnya. Ia tersenyum sambil sesekali merapikan hijabnya. Selang lima menit kedua orang tuanya datang juga adiknya, Romi.

“Assalamuallaikum…May,” salam sang bapak dari arah luar.

“Walaikumsalam, pak.” Maya membuka pintu. Keduanya juga Romi terperangah. Melihat anak perempuannya terlihat begitu cantik dan anggun.

“May, ini kamu? Kenapa pakai acara sambutan segala, May? Memangnya ada yang ulang tahun?” tanya sang bapak, bingung setelah melihat Maya tampil berbeda.

“Eh…iya. Ada segala snack dan buah-buahan juga. Perasaan gak ada yang ulang tahun, May?” sang ibu ganti bertanya. Bingung. Mereka duduk sambil mengamati segala makanan yang ada di meja lalu berganti menatap Maya yang berpenampilan ayu itu.

“Weeeeyy….gilaaa… Banyak bener makanannya, Mbak?” Mata Romi tak lepas dari aneka snack yang terhidang di meja. Satu tangannya hendak mengambil satu buah anggur namun segera ditepis oleh Maya.

“Heh. Enak aja. Buat tamu, GR!”

“Tamu siapa, May?”

Maya tampak menghela nafas, “Pak, Bu, duduk dulu, biar aku jelasin,” Keduanya terlihat mulai duduk dengan tatapan serius mereka pada Maya seakan siap mendengar penjelasan anak perempuannya itu.

“Pak Rangga dan keluarga akan datang kesini, pak. Dia akan melamarku. Maaf sebelumnya tidak cerita ke bapak ibu, karena baru semalam dia datang dan memintaku untuk menikah dengannya. Dan aku bilang, temui orang tuaku dulu, minta ijinlah pada mereka.”

Bapak, Ibu, juga Romi, mereka sama-sama terperangah mendengar penjelasan Maya.

“Pak Rangga bos kamu itu, May?” Lelaki paruh baya itu bertanya seolah tak percaya.

“Pak Rangga yang ganteng itu, May?” sambung Ibu dengan mata berbinar.

Maya mengangguk sambil tersenyum malu.

“Aaaaaaaaaaa, cah ayuuuu. Akhirnyaaa…selamat ya ndukkk! ” seru Ibu antusias seraya memeluk anak gadisnya.

Bapak tampak semringah mendengar penuturan Maya. Romi pun ikut tersenyum dengan satu tangannya mengambil anggur. Lalu memakannya. Dasar.

“Jam berapa mereka datang, May?” tanya bapak.

“Jam 10, pak.”

“Apa?????? Jam 10. Lhah sekarang jam berapa?” Ibu melirik jam yang menempel ditembok. Jarum jamnya menunjukkan pukul 9.30. “Duh, nduk. Ibu belum siap-siap. Ayo pak. Mandi dulu. Romi, jangan makan mulu. Ayo buruan mandi.” Mereka pun menghambur kedalam.

Selesai mandi pun mereka ribut, saling tanya pendapat pakaian apa yang cocok untuk dipakai.

“Bu, bapak pakai batik ini kelihatan bagus, ndak?” tanya lelaki paruh baya itu sambil menunjukkan pakaiannya pada istrinya.

“Oh…ya pak. Pakai itu saja, bagus. Tapi bapak memang pakai apa saja kelihatan ganteng deh, pak.” sahut sang istri. Lelaki itu pun ngeloyor kedepan cermin sambil tersenyum-senyum.

“Pak. Sinio….Ibu pakai gamis ini cocok pak?”

“Duh…bu. Ibu kelihatan lebih muda pakai gamis itu. Cantik, bu. Senada warnanya sama Maya, tuh.” timpal sang bapak sambil matanya menunjuk ada Maya yang duduk seraya terkikik melihat kehebohan orang tuanya.

“Lhah pak. Kalau kelihatan lebih muda, nanti mas Rangganya apa nggak keder, pak. Apalagi coraknya sama kaya yang dipakai Maya,” wanita paruh baya itu seperti menimbang-nimbang.

“Keder gimana maksud ibu?” sang Bapak balik bertanya.

“Keder milih calonnya pak,” Ibu nya Maya nampak terkikik sambil bercermin.

“Bue… Bue… Moso yo mas Rangga rabun.” Mereka nampak terbahak juga Romi yang baru saja bergabung pun ikut terkikik.

Selama hampir 20 menit, akhirnya mereka siap. Mereka duduk di ruang tamu dengan perasaan yang tidak tenang. Terutama Maya, wajahnya terlihat gugup, sering kali ia melirik ponsel ditangannya, berharap ada pesan masuk dari Bosnya.

********

Di lain tempat, Rangga dan keluarganya tengah bersiap. Didepan cermin kamarnya yang besar, ia terlihat mengenakan batik slim lengan pendek berwarna kuning gading yang terlihat pas dengan bodinya di padu padankan dengan celana kain hitam. Ia menyisir rambutnya kebelakang, berbeda dengan biasanya. Ia selalu membiarkan rambutnya sedikit acak di bagian atasnya ketika berangkat kerja. Parfum favoritnya ia semprotkan ke seluruh badannya. Wajahnya terpantul begitu menawan di cermin sana. Tak hanya rupawan, batik yang ia kenakan juga menambah dirinya terkesan elegan.

Setelah selesai, ia meraih ponsel yang ada diatas nakas. Tak ingin wanitanya menunggu terlalu lama, segera ia kirim pesan pada Maya.

[Lima belas menit lagi aku datang. Apa kamu sudah siap menjadi pendamping hidupku nanti? Semoga kamu tidak menolakku. Aku membawakanmu sesuatu agar kamu percaya bahwa aku benar-benar serius ingin segera menikah denganmu. Tunggu saja. 💓]

Rangga terlihat mengulum senyum. Ia mematikan layar ponselnya lalu kakinya melangkah menuju ranjang disisi kanannya. Ia mengambil satu buket bunga juga satu set perhiasan mewah untuk ia hadiahkan pada Maya.

Rangga keluar kamar lalu turun kebawah. Sesampainya di ruang tamu, mamahnya, kakaknya, Sarah, juga Stevi, keponakan kesayangannya serta beberapa keluarganya dari pihak sang mamah berkumpul jadi satu.

“Wah…tumben gantengnya kelewatan kamu, ngga?” ledek sang kakak seraya memutari tubuh rangga, melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Apaan sih, mbak! Bukannya setiap hari aku terlihat ganteng. Kenapa baru sadar? Ada yang tidak beres dengan matamu sepertinya,mbak? Ayo buruan. Takutnya mereka lama nunggu.”

“Heleh bilang saja dah gak betah pengen deketan sama Maya!” ucap sang kakak sambil meraih tas yang ia letakkan di meja ruang tamu.

“Iya, Om. Tumben ganteng banget! Ucap sekecil, Stevi dengan mimik menggemaskan.

“Ah, kamu ini. Om itu memang sudah ganteng dari lahir, Stevi sayang…,” ucap Rangga seraya mencubit gemas satu pipi Stevi yang chubbi.

Si kecil dan mamahnya, Sarah justru memasang muka seolah mau muntah setelah mendengar ucapan Rangga yang dianggap mereka terlalu pede.

Mamahnya Rangga yang tengah duduk dengan balutan gamis berwarna pastel itu juga keluarga lainnya hanya ikut terkikik melihat keakraban kakak beradik itu.

“Om, tante…? Apa kabar? Aku sangat berterimakasih sekali mau datang dan mendampingiku diacara penting ini,” ucap Rangga pada keluarga yang lainnya. Keluarga besar dari ibunya yang masih sangat dekat ya hanya mereka. Mereka adalah kakak dan adik dari mamahnya. Beruntung rumah mereka dekat, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit bisa sampe di rumah Rangga.

Tanpa menunggu lama. Mereka pun keluar dari rumahnya, menuju ke mobil masing-masing. Mamahnya berada satu mobil dengan Sarah dan juga Stevi. Sedang Om dan Tentenya serta kedua anak-anak mereka berada pada satu mobil yang berbeda dengan seorang supir yang sudah Rangga siapkan. Rangga pun sudah siap dengan mobilnya sendiri. Satu mobil lainnya juga sudah Rangga siapkan untuk membawa semua barang-barang bawaan untuk Maya dan keluarganya.

Sepanjang perjalanan Rangga terlihat gugup, sering kali ia memakai kaca mata lalu melepasnya, memakainya lagi lalu melepaskan lagi. ‘Untung gak bareng sama mbak Sarah, kalau tidak bisa di bully habis-habisan aku ini gara-gara terlihat gugup.’ batin Rangga.

Setelah hampir 15 menit, mobil mereka akhirnya mendarat dengan sempurna. Empat mobil terparkir di jalan komplek perumahan yang dihuni Maya. Jalannya tidak begitu lebar, namun setidaknya cukup untuk dilewati satu mobil lagi.

Keluarga Rangga keluar lebih dulu disusul oleh Rangga dengan satu kotak perhiasan serta satu buket bunga ditangannya. Rangga berkali-kali terlihat menelan ludahnya. Jantungnya mulai berdetak tak sesuai ritmenya. Mereka berjalan dengan berbagai barang bawaan ditangannya masing-masing

Dari kejauhan, Rangga melihat bapak dan Ibu Maya tengah berdiri didepan pintu seolah siap menyambut kedatangan Mereka. Sesekali Ragga melirik kesisi kanan dan kiri Demi menemukan sosok Maya yang mungkin bersembunyi dibelakang kedua orang tuanya.

Sesampainya didepan teras rumah Maya. Bapak dan Ibu Maya menyambut keluarga Winata dengan senyum yang mengembang sempurna di bibir mereka. Mereka saling bersalam-salaman, dengan penuh hormat, sang tuan rumah pun mempersilahkan mereka masuk.

“Maafkan kami, beginilah kondisi rumah kami, nak Rangga,” ucap sang calon mertua merendah setelah mereka semua duduk.

“Tidak apa-apa, pak. Kita semua nyaman kok, iya kan bu?” sahut Rangga seraya memandang pada ibunya seolah menyetujui apa yang ia ucapkan.

“Kita semua sama, pak, bu… Jadi tidak perlu membeda-bedakan. Saya dan keluarga besar insyaAllah menerima dan sangat nyaman berada di keluarga bapak, ibu.”

“Oya, ngomong-ngomong nak Maya dimana ya? Dari tadi ibu belum melihatnya?” sambung mamahnya Rangga penasaran. Rangga pun tak kalah penasaran menunggu Maya yang tak kunjung muncul dihadapannya.

“Bu, tolong panggil Maya didalam.” perintah lelaki paruh baya itu pada istrinya untuk segera memanggil anak perempuannya.

Tak lama, ibunya pun masuk. Maya yang tengah sibuk merapikan diri setelah membuatkan minum tadi pun kaget mendengar panggilan ibunya.

“May, ayo…sudah ditunggu nak Rangga. Kenapa lama sekali?”

“Iya, bu sebentar. Aku gugup sekali bu, apa aku sudah cantik dengan gamis ini?” tanya Maya penasaran.

“Wes to nduk… Kamu kelihatan cantik sekali, beda dari biasanya. Apalagi mengenakan hijab. Top pokoknya nduk. Eh sik…sik, kok bajunya bisa samaan sama nak Rangga nduk, warnanya kuning gading. Weeeee memang dasar jodoh kalian itu. Sudah satunya ganteng, satunya cantik. Jos.” ujar sang ibu dengan wajah berbinar seraya mengarahkan satu jempol kearah Maya.

“Masa sih bu? Kok bisa ya?” Maya melotot tak percaya.

“Wes, wes, kelamaan ayo keluar!” perintah sang ibu lagi.

Maya pun perlahan berjalan keluar kamar membuntuti ibunya. Sesampainya diruang tamu, Maya semakin gugup, wajahnya memerah bak kepiting rebus, pipinya panas seketika. Ia masih bersembunyi dibelakang ibunya yang masih berdiri.

Rangga terlihat sangat tidak sabar melihat Maya. Akhirnya ia pun memanggil namanya, “May?”

Wanita paruh baya itu duduk dan Maya yang masih berdiri kini terlihat jelas oleh Rangga. Seketika Maya menunduk. Kikuk, grogi jika harus menatap lelaki didepannya itu dengan hijab barunya.

Rangga terperangah melihat penampilan baru wanita didepannya, di matanya ia terlihat semakin cantik dan begitu anggun. Rangga menyeringai seakan telah menemukan bidadari surganya.

“Sangat mengagumkan!” satu kalimat keluar dari bibir Rangga dan berhasil membuat seisi rumah itu terbahak.

Maya terlihat menggigit bibir bawahnya, malu. Seraya menatap Rangga dengan mata memicing. Sementara Rangga justru tersenyum puas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here