Hutang Terakhir

0
157
views

“Jum … Pinjem uang, dong! Seratus ribu aja.”

“Yang kemarin aja, belum dibalikin yang lima puluh ribu sama yang dua ratus ribu. Masa mau pinjem lagi.”

“Yang ini penting banget soalnya, tolong, ya, pliiissss …!”

“Gak, Ah! Sebelum kamu bayar utangmu yang kemarin, aku gak mau pinjemin.”

“Aku janji, ini yang terakhir, Jum … kamu gak kasian sama Ibuku? Dia sakit dan butuh obat.”

“Jadi, sekarang Ibumu yang sakit? Kemarin Ayahmu, kemarinya lagi iparmu, jangan-jangan besok kamu lagi yang sakit?” ucapku sedikit sinis. Bagaimana tidak alasanya sakit mulu meski orangnya berbeda.

“Kali ini gak bohong, Jum. Ibuku betulan sakit. Janji, minggu depan aku bayar semua hutangku padamu.”

“Ya udah aku pinjemin, awas kalau bohong. Aku tidak akan percaya lagi sama sampeyan,” ketusku sambil memberi selembar kertas berwarna merah.

“Ok, Jum. Kamu emang sahabatku yang paling baik sedunia, selalu ada kapan aja kalau aku butuh. Makasih, ya ….” Cepat-cepat ia pergi seolah keadaan sangat darurat.

Cepat-cepat aku menuju kepasar untuk beli ayam, bisa habis kena marah sama Nyonya Besar alias Nenek, kalau aku pulang terlambat.

Baru saja mau keluar dari pasar, aku melihat Juleha sedang asyik makan bakso bersama dengan kawan-kawanya.

“Awas aja entar, kalau pinjem duit lagi. Kagak bakalan aku pinjemin apapun alasanya. Beraninya kamu bohongi aku, bilang sahabat! Sahabat apaan model begini.” Aku ngedumel di sepanjang jalan menuju rumah.

Sebulan berlalu, tapi Juleha belum juga menampakkan batang hidungnya untuk membayar utang-utangnya.

“Tok! Tok! Tok! Tookk ….”

“Sebentar, siapa di sana?”

“Hu … hu … huuuu.”

“Kamu, Jul! Kenapa kesini sambil nangis segala?”

“Tolongin, Aku, Jum. Ibuku kambuh lagi penyakitnya dan lebih parah dari yang kemarin ….”

“Oh … Ibu sakit lagi? Butuh uang lebih banyak, dong, kalu gitu?

“Iya, Jum. Biaya obatnya lebih mahal dari yang kemarin, tolong pinjemin uang dua ratus lima puluh, ya … ini aja sebetulnya masih kurang, tapi gak papalah sisanya nanti aku minta bantuan pada kakakku.”

“Uang segitu, cukup? Gak kurang lagi? Terus kapan mau dibayarnya, kemarin bilangnya terakhir ngutangnya.”

“Cukup, kok. Pokoknya janji, kali ini bener-bener yang terakhir aku pinjam sama kamu. Awal bulan aku bayar pas gajian.”

“Ok … tunggu sebentar, ya! Aku ambil uangnya dulu di dalam.” setelah beberapa saat aku kembali keluar menemui Juleha, sengaja gak aku suruh dia masuk udah kadung sebel. “Ni, uangnya.”

“Kok, cuma dupuluh lima ribu, Jul?” tanyanya kaget sambil menjembreng dua lembar kertas itu.

“Itu untuk beli bensin sama untuk beli bakso cukup, kok. Jangan kira aku gak tau, kamu sudah bohongi aku kemarin. Oh, ya! Itu aku kasih cuma-cuma buat kamu. Jadi, gak perlu lagi kamu bayar ….” belum selesai ucapanku, Eh, main kabur aja dia. Ya sudahlah itu lebih bagus, iya, kan, teman-teman …?

By. Dewi trismia

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here