Corona dan Tukang Ojek

0
192
views

“Mas, hati-hati ya. Jangan dilepas maskernya. Nanti kalau ada apa-apa di jalan buru-buru telpon ya.” Pinta istriku dengan muka serius.

Hari ke 7 pasca ketetapan pemerintah soal stay at home dan social distancing, aku yang seorang tukang ojek tak bisa terus berdiam diri di rumah. Setiap hari mungkin ada saja yang mau memakai jasaku. Tapi sebagai warga negara yang baik kita harus patuhi apa kata pemerintah, begitu kelakar istriku. Bilang saja jika dia tak rela ditinggal suami kalau sedang sakit. Hehe.

Sudah seminggu kami berdiam diri di rumah menghabiskan apa yang ada. Meskipun hanya pagi sarapan 2 butir telur dadar dibagi 3. Siang nasi dengan kuah sayur bening, kuahnya banyak sayurnya segenggam. Malam dengan telur lagi. Alhamdulillah sudah lebih dari cukup bisa makan teratur.

Sisa uang hanya ada di saldo kredit dalam aplikasi. Hanya bisa digunakan untuk dana talangan bila ada customer minta dibelikan makanan. Kebutuhan makan tiap hari harus terpenuhi, meskipun kami mencoba untuk diselingi dengan puasa tapi tak tega dengan si kecil. Dia harus tetap makan dan aku harus bekerja setiap hari. Tak mungkin kami meminjam uang atau meminta makanan kepada tetangga. Sekali dua kali mungkin akan diberi tapi jika berkali-kali pastinya bikin keki.

Kuraih jaket, masker, dan sarung tangan. Bergegas mengais rezeki di jalanan. Kunyalakan aplikasi dan bergegas mencari spot tergacor. Mudah-mudahan hari ini bisa tuber alias tutup berlian. Kujalankan motor pelan-pelan. Jalanan memang sepi, tak seramai biasa. Namun masih ada satu dua orang yang berjualan. Mall-mall masih buka. Agen-agen bus juga masih menyiapkan armada. Bagaimana tidak, antrian panjang mengular demi mendapatkan tiket bus-bus antar kota antar provinsi.

Hapeku berdering tanda orderan masuk. Segera kusambar. Alhamdulillah. Kujemput customer, kulihat tujuannya ke agen bus. Dalam perjalanan.
“Mba, gak takut corona?” Kataku membuka pembicaraan.
“Saya disuruh pulang kampung sm ibu. Katanya pulang aja daripada liburan di rumah doang!” Jelas mba yang tidak mau pake masker saat kutawari, dia merasa sehat dan tidak flu. Katanya masker bikin sesak napas.

“Oh gitu mba gak takut ketularan nanti?” Tanyaku menyelidik.

“Ngapain takut sih, mati mah mati aja bang!” Paparnya dengan rasa percaya diri.

Waduh gawat orang kaya gini nih yang gak takut kalau dibawa ke kandang ular pithon dan anaconda.

****

Hapeku berdering kembali. Ada yang minta dibelikan makanan. Aku mengantri sesuai arahan agar bisa memberi jarak. Setelah selesai, kuantarkan ke rumah pelanggan. Setibanya di gerbang si customer sudah menungguku di depan. Dia membawa botol disinfektan lalu menyemprotkan semua ke badanku. Kulihat atribut lengkap yang dipakai si customer, mulai dari sarung tangan plastik, masker N95, jas hujan plastik dan sepatu boot.

Setelah selesai bertransaksi dia segera menyemprot badannya dengan cairan disinfektan. Membuka atribut lalu merendamnya dalam air sabun, lalu mencuci tangannya dengan handsanitizer. Aku hanya melongo melihat pemandangan di depan garasi. Ada jemuran selusin jas hujan. Botol besar handsanitizer menangkring di pintu masuk. Dirigen penuh cairan disinfektan beserta alat penyemprot. Berjejer beberapa pasang sepatu boot. Bau eucalyptus menyeruak di hidung. Sepertinya habis ini dia langsung mandi. Aku tertawa geli dalam hati. Mungkin orang ini salah satunya penyebab harga barang-barang terus melonjak. Yakin deh bahan makanan di kulkasnya pun overload.

****

Kali ini aku berhenti di tengah jalan saat ada bapak-bapak menyetop.
“Bang, bisa tolongin saya ya!” Katanya penuh mengiba.

“Ya pak, ada apa pak?” Aku penasaran.

“Pak, istri saya belum pulang-pulang sudah seminggu di rumah sakit. Dia perawat, saya mau tau keadaannya sekarang. Tolong antar ke rumah sakit ya.” Mukanya penuh dengan kekhawatiran.

“Tapi pak… bukannya…!” Belum sempat bicara banyak. Bapak itu sudah menyela dan langsung nangkring di

“Tolong bang, nanti saya bayar lebih ya!”

Kuantar bapak itu menemui istrinya. Usut punya usut, istrinya hanya mengabari via whatsapp saja. Dia bekerja siang dan malam merawat orang-orang yang positif covid-19. Hanya mengirim video saat istirahat dan menelpon seperlunya. Maka dari itu sang suami merasa sangat khawatir. Dia tak peduli, kini ia sedang menerjang badai virus corona. Baginya bisa bertemu istri adalah hal yang paling berharga.

Kulihat di kejauhan. Si bapak menelpon sang istri. Lalu si istri tak lama keluar dengan pakaian khas seperti astronot. Si bapak berdiri di ruang tunggu steril karena dilarang oleh security. Mereka saling berbincang dan bersapa dari kejauhan. Aku mengabadikan momen itu dalam rekaman video.

“Abang kenapa kesini?” Suster itu memulai percakapan.

“Aku kangen banget sama kamu sayang!” Si bapak tanpa malu mengutarakan perasaannya.

Si istri sepertinya tersenyum dalam tangis.

“Maafin aku ya, selama pernikahan kita. Abang belum buat kamu bahagia. Abang pengen kamu cepet pulang sayang!”

“Aku pengen pulang, aku juga kangen sama abang. Tapi aku gak mau bawa pulang virus ini ke abang dan anak-anak kita. Rumah sakit sedang butuh tenagaku. Aku gak bisa meninggalkan mereka-mereka yang sakit. Sabar ya bang, aku pasti pulang!”

Tiba-tiba sirine berdering, sepertinya ada keadaan darurat. Suster itu berlari kembali ke dalam. Si suami tergugu, ia lunglai duduk bersimpuh.

Ia takut kejadian kemarin menimpa sang istri. Baru kemarin seorang perawat positif corona meninggal di rumah sakit ini. Keluarganya tak diijinkan untuk mengurusi jenazah tersebut.

Semua sesuai protokol dari Dinkes dan fatwa MUI. Betapa sedihnya jikalau kita belum sempat mengucapkan apapun, bahkan ketika sudah menjadi jenazah kita tak dapat menyentuh dan menguburkan dengan tangan kita sendiri.

****

Setelah seharian mengantarkan makanan, membawa penumpang, juga pekerjaan-pekerjaan lainnya. Aku dapat menyimpulkan beberapa hal. Betapa berharganya diri kita untuk orang lain.

Ada yang begitu setia menunggu kita di rumah. Ada yang akan sedih ketika kita tak berkabar. Ada pula yang rela berkoban dan berjuang supaya kita tetap bisa hidup.

Namun ada juga yang begitu cuek, begitu apatis untuk keselamatan diri bahkan tak memikirkan imbasnya kepada orang lain. Merasa jumawa, merasa diri maha benar dengan pikiran yang tanpa dasar ilmu. Padahal jika hal buruk terjadi maka penyesalan yang akan didapat.

Ada lagi yang terlalu duniawi, terlalu logis, terlalu skeptis lupa akan hadirnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam yang tanpa campur tanganNya takkan terjadi apapun di dunia ini.

Baiklah aku akan ikhtiar sebelum tawakal.
Bismillah.

Allahumma inni a‘udzu bika minal barashi, wal junuuni, wal judzaami, wamin sayyi’il asqoom.

by: Rengganis Fitri Dewi

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here