Cinta Terhalang Virus Corona

0
4542
views

Aku Isti Aluna, seorang Dokter Muda berumur 35 tahun. Lahir tanggal 28 Mei 1985. Belum menikah, karena masih mengharapkan mantan pacar yang mendadak hijrah untuk melamarku. Namun sayang hingga saat ini aku menantikannya, dia tidak juga datang melamarku. Mungkin karena aku belum sepenuhnya hijrah seperti dia.

Jilbabku belum sepanjang akhwat-akhwat yang sering ditemuinya, rutinitasku yang padat juga seringkali membuatku tidak sempat mengikuti kajian-kajian Islam, di masjid tempat biasa ia menimba Ilmu. Dia adalah Ihsan Jamal, lelaki idaman yang pernah aku cintai.

Sebelum Ihsan akhirnya memilih untuk hijrah, tiap kali pulang bekerja dari rumah sakit, ia selalu menjemputku, dan mengajakku makan malam romantis hanya berdua.

Ihsan adalah pria romantis, berhati lembut, ia memiliki suara emas, namun sangat jarang ia berbicara. Tiap kali ia berbicara, aku selalu ingin mendengarkannya, melihat gerak bibirnya, ekspresi matanya, yang kudapati sesekali sering mencuri pandang padaku, dan ia segera menurunkan pandangannya, ketika aku membalas tatapannya.

Sudah 7 tahun aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, tidak juga berhubungan lewat media sosial, Ihsan memblokir semua akses untukku berkomunikasi dengannya, padahal saat itu … aku sedang cinta- cintanya kepada Ihsan.

Bagaimana tidak, Ihsan adalah cinta pertamaku, Ihsan meninggalkanku setelah kejadian yang membuat jantungku tidak pernah berhenti berdebar kencang setiap kali aku mengingatnya.

Dihari Ulang tahunku Ihsan datang kerumahku membawa sebuket bunga Mawar merah dan sebuah cake bertuliskan,” Selamat ulang tahun calon Istriku.”

Tentu saja Aku sangat bahagia sekali waktu itu, Aku diajak olehnya merayakan ulang tahunku kesebuah taman kota, disana, Ihsan menyuapiku sepotong cake sambil mengusap lembut kepalaku.

Kemudian Cake itu kusuapkan juga kepadanya, sambil mencolekkan mentega dengan dua jariku yang kemudian ku usapkan lembut di pipinya, Ia menatapku dengan tatapan cinta, mesra, lalu ia membalasku dengan mengusapkan mentega kepipiku, lalu ke hidungku, dan bibirku.

“Jangan dibalas … Bagaimana jika nanti aku jerawatan?”ucapku.

“Kalau abang yang jerawatan bagaimana?”tanyanya.

“Aku bawa kedokter kulit.” jawabku.

“Kalau kamu jerawatan, abang kecup juga langsung sembuh.” ucapnya.

Aku terdiam, semilir angin menambah romantis malam itu. Entah mengapa aku sangat berharap Ihsan betul-betul mengecup pipiku, Aku sangat berharap Ihsan memelukku malam itu.

Semilir angin malam itu terlalu dingin rasanya, menembus kulit hingga tulangku. Andai saja aku dipeluk olehnya … Entah apa yang memhisiki hatiku, malam itu aku sangat ingin merasakan pelukannya, Aku berfikir bahwa pelukannya akan menciptakan suasana istimewa dan berkesan di hari ulang tahunku.

Lama sekali aku dan Ihsan diam tanpa kata, menyelami dan menikmati apa yang sedang kami rasakan dihati masing-masing, aku dengan angan-anganku yang saat itu ingin sekali dipeluk olehnya, dan dia dengan angannya yang entah sedang memikirkan apa. Sekali-kali kami beradu pandang, sambil tersenyum malu, padahal sudah 1 tahun kami berkenalan setiap didekatnya aku selalu berdebar dan salah tingkah.

Pukul 21.00 malam, Ihsan mengantarkanku pulang ke Apartemenku. Kamarku berada di lantai 5, dengan menaiki lift Ihsan mengantarku hingga di depan pintu kamarku. Seperti biasa, ia ingin memastikanku selamat.

Selama kami di dalam lift berdua, aku merasakan gejolak dan debaran aneh. Jantungku berdetak kencang, karena terlalu kencangnya, kurasa detak jantungku dapat didengar oleh telinga tanpa menggunakan oximeter.

Secepat kilat lift berhenti dilantai 5, kami keluar dan berjalan kearah kamar. Setelah memastikanku sampai didepan kamar, Ihsan pun permisi pulang.

Berat sekali membiarkan Ihsan pulang, aku ingin ia bermalam bersamaku, aku ingin merasakan dipeluk olehnya.

Sebelum pulang Ihsan menatap wajahku lamat-lamat, tidak sengaja akupun menatap wajahnya. Netra kami bersua. Detak jantungku meningkat ribuan kali lipat, tanganku di genggam erat olehnya,

“Abang mau langsung pulang saja ya, jaga dirimu.” ucapnya.

Aku tidak bergeming, aku tidak rela ia pulang secepat itu. kualihkan wajahku kearah Vas bunga, berat sekali berkata Iya. Ihsan menunggu jawabanku, namun tiada satu katapun yang keluar dari bibirku. Sedangkan hari semakin larut, Akhirnya ia melepaskan genggaman tangannya, lalu berlalu meninggalkanku. Aku ingin menahannya lebih lama disini, tapi aku sadar itu tidak mungkin terjadi.

“Kak Ihsan …. ” lirihku dalam hati sambil menatap langkah kakinya dengan perasaan yang teramat sangat berat.

Sejurus kemudian Ihsan menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya kearahku. Kemudian, ia menghampiriku, lalu punggungku menempel dipintu kamarku, sedangkan dadaku menempel didadanya, ia memelukku, ia menatap wajahku lekat-lekat, lalu kemudian ia mencium bibirku, dengan nafas memburu.

Dunia terasa milik berdua, tidak lagi teringat akan Tuhan sang pemilik rasa, malu juga runtuh, tidak peduli apakah akan ada yang menyaksikan adegan antara aku dan Ihsan dilorong itu. Atau, tidak juga peduli akan keberadaan Cctv.

Hasratku gantung, Ihsan melepasku dan kemudian meninggalkanku tanpa kata, sepertinya sama sepertiku, ia juga menyadari kekhilafan itu. Dan kekhilafan itu tidak boleh dilanjutkan karena kami belum mengucapkan janji suci dihadapan Sang pemilik hati.

Aku mendengus, membuang nafas kasar. Aku tidak rela digantung seperti ini, aku tidak percaya mengapa seberani ini, aku tidak percaya mengapa seceroboh ini.

Ku gesek key card kamarku, lalu ku rebahkan diri ke atas tempat tidurku. Fikiranku terus melayang kepada Ihsan. Setiap saat aku selalu memikirkannya, bahkan aku juga memimpikannya.

Namun, sejak malam itu, entah mengapa Ihsan tidak pernah lagi menghubungiku, biasanya setiap pagi sealu ada notifikasi wa berbunyi darinya, dengan tulisan “Selamat pagi sayang, sudah shalat?”

Namun pagi itu, tidak ada lagi pesan seperti itu. Aku sangat khawatir, jangan-jangan terjadi hal yang buruk setealah malam itu.

Kubuka Facebookku, sebuah pesan dari Ihsan masuk, pesannya bertuliskan,

[Maafkan Abang atas kejadian semalam, maafkan abang yang tidak bisa menjaga nafsu, maafkan Abang yang sudah mencium bibirmu. Abang khilaf, Abang ingin bertaubat. Abang ingin melamarmu, namun … saat ini abang belum siap, kelak jika Allah izinkan kita berjodoh, abang akan melamarmu. Abang akan berusaha memperbaiki diri, menjaga hati, bila abang sudah siap kelak. Izinkan Abang menjauhimu, karena jika dekat, Abang khawatir tidak mampu menjaga diri dan justeru merusak kehormatanmu.]

Membaca pesan dari Ihsan, hatiku mendadak perih, karena foto profilnya sudah berubah berwarna putih, aku diblokirnya, wa ku di blokirnya, bahkan saat nomor hp nya kuhubungi pun, sudah tidak aktif lagi. Bagaimana mungkin ia meninggalkanku disaat hatiku sedang membara, membara karena mencintainya.

Benarkah ia meninggalkanku untuk memperbaiki diri? Atau justeru setelah malam itu, ia menganggapku wanita murahan, yang tidak layak dijadikan tambatan hati?

“Aluna, kenapa kamu menangis? Apa yang membuat kamu melamun?” ucap rekan kerjaku Anita, ucapannya menyadarkanku pada ingatan 7 tahun yang lalu. Setiap hari aku memang begitu, mengharapkannya, memikirkannya, merinduinya.

“Aku mengkhawatirkan virus Corona yang mewabah ini Anita, Aku khawatir terjangkit. Akukan belum menikah.” Jawabku berbohong.

“ Ya aku juga sangat mengkhawatirkannya, setiap hari aku kepikiran pada keluarga dirumah. Apalagi, sulit sekali mengimplementasikan social distancing.”

“ Semoga kita bisa melewati masa sulit ini dengan baik, selama kita mengikuti protokol yang berlaku, dan rajin mencuci tangan, InsyaAllah kita akan baik-baik saja Anita.”

“ Kau tau Aluna? Aku baru memeriksa pasien no 202, usianya sekitar 37 tahun, Ia datang bersama seorang anak laki-laki berusia 10 tahun. Mereka berdua mengalami flu, demam, dan mengeluh tidak bisa mengendus bau dengan baik. Setelah menguji sampel darah, sampel dahak dan rontgen dada , sepertinya mereka terinfeksi Corona, Aku sangat khawatir melihat anak berusia 10 tahun itu, teringat pada Nanda anakku. Kau tau Aluna, ia menanyakan dirimu.”

“Benarkah? Apa aku mengenal pasien itu?”

“ Nama pria yang berusia 37 tahun itu Ihsan Jamal. Sedangkan anak yang berusia 10 tahun itu bernama Muhammad Ishaq. Pria itu bertanya padaku, apakah dirumah sakit ini ada Dokter bernama Isti Aluna yang bekerja disini.”

“Kau jawab apa Anita?”

“Kujawab ada, ketika kutanya apakah ia temanmu, dia hanya menggeleng.”

“Ihsan Jamal, nama itu adalah nama yang tidak asing, nama itu adalah nama yang sama yang setia menempati hatiku selama bertahun-tahun hingga saat ini, tapi aku ragu, benarkah Ihsan Jamal itu adalah Ihsan Jamal kekasihku? Sepengetahuanku hanya 1 Ihsan Jamal yang mengenaliku. Tidak mungkin itu bukan dia. Pasti dia.”benakku.

“Aku ingin menemuinya Anita, dimana Dia sekarang?”

“Masih diruangan isolasi.”

“Baik, aku akan segera menemuinya, kurasa aku mengenalnya.”

Setelah berpakaian lengkap, mengenakan sarung tangan dan masker segera kakiku kulangkahkan kearah ruangan isolasi, Aku sangat berharap semoga itu bukan Ihsan Jamal kekasihku. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, aku ingin bertemu dengannya, Ia berjanji akan menikahiku. Ia tidak boleh terinfeksi virus Corona. Aku sangat khawatir, terlebih jika itu adalah hal itu benar-benar terjadi kepada Ihsan Jamal. Obat atau vaksin untuk pasien yang terjangkit virus Corona belum ditemukan. Virus Corona (Savere acute respiratory syindrome corona virus 2 /SARS-coV-2) merupakan virus yang menyerang system pernapasan . Virus ini bisa menyebabkan gangguan system pernapasan, pneumia akut, bahkan kematian.

Tidak, kuharap ia bukan Ihsan Jamal, atau jikapun ia adalah Ihsan, kuharap dia tidak terinfeksi virus Corona.

Setibanya aku diruangan isolasi, kulihat seorang pria berwajah teduh sedang terbaring tak berdaya, Kuberanikan diri memasuki ruangan tersebut. Pura-pura memeriksanya dan dengan mencuri pandang kulihat wajah pasien yang saat itu ada dihadapanku.

Kaget, sedih, bagaikan ditimpa langit runtuh, aku melihat sekujur tubuh lemah berbaring dihadapanku, diruangan isolasi pasien yang sudah dinyatakan positif terjangkit virus Corona.

“Ihsan, Tidak … tidak mungkin! tidak mungkin kamu Ihsan Jamal.” isakku.

“ Kamukah itu Aluna?.”

-○♡○-

by : Amie Yasmine 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here