Bapak, Aku Lapar

0
184
views

Putriku, Yuri, mempunyai seorang teman dekat yang juga merupakan anak tetangga kami. Namanya Annisa. Mereka biasa berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Jalan kaki, karena memang letak sekolah tidak jauh dari tempat tinggal kami. Sekitar seratus meter saja.

Satu hal yang selalu menjadi pusat perhatianku adalah tubuh Annisa yang kerempeng mirip bocah kurang gizi. Kaus yang tidak akan muat jika dipakai oleh anakku, bakal tampak kedodoran di badannya. Apalagi lingkar tulangnya juga kecil, membuat gadis cilik itu makin terlihat kurus dan tidak terawat.

Sempat terpikir untuk menasihati, setidaknya memberi saran kepada ayah si Annisa supaya lebih memperhatikan kondisi putrinya. Kasihan. Walau aku dan suami tidak berasal dari kalangan berada, tetap ada budget khusus buat membeli susu, vitamin, maupun nutrisi pertumbuhan lain yang dibutuhkan selama masa kanak-kanak.

Akan tetapi, niat tersebut langsung urung ketika mendengar suamiku bercerita. “Mas Edwin itu kasihan, Dek. Sebelum pindah ke perkampungan sini, dulu dia tinggal di perumahan. Tapi, suatu hari mereka ditimpa musibah kebakaran. Semua barang habis dilalap api, termasuk tumpukan ijazah. Mereka mengalami luka bakar serius dan istrinya sampai meninggal.”

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Jadi, istrinya Mas Edwin itu sudah meninggal, ya, Mas? Aku pikir istrinya pergi karena nggak kuat hidup–“

“Melarat?” potong suamiku, nadanya ketus.

“Bukan gitu, Mas, tapi ….”

“Aku nggak pernah masalah kamu mau bergaul dengan siapa saja. Cuma aku minta tolong, jangan kamu ikut-ikutan suka ngrasani orang kayak ibu-ibu sini. Ghibah itu haram, kecuali niatnya memberi solusi.”

“Iya, Mas.” Aku tertunduk lesu, tebersit sesal di hati.

“Makanya, kalau kamu perhatikan, kulit lengan kiri Annisa seperti berkerut. Itu bukan cacat sejak lahir, tapi bekas luka bakar.”

Semenjak mengetahui kisah itu dari suami, aku tidak lagi berani memandang rendah kepada Mas Edwin. Justru diri ini makin respek saat Annisa menjawab bahwa semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan sang ayah. Bocah itu hanya kadang saja membantu di sela waktu bermain dan belajar.

Terdorong iba, sejumlah pakaian Yuri sewaktu kelas 2 SD yang masih layak pakai kuberikan padanya. Sempat muncul respons penolakan dari Mas Edwin, mungkin sebab tidak mau menjadi pihak yang merasa dikasihani. Namun, setelah diberi pengertian, akhirnya dia berkenan menerima pemberianku.

Lega batin ini melihat Annisa tidak lagi pergi bermain dengan kaus atau kemeja kumal. Memang baju pemberianku itu bekas, tapi dalam kondisi bagus pun terawat. Sementara yang telah bernoda dan kusam, tentu saja tidak ikut dimasukkan ke dalam dus yang diserahkan kepada Mas Edwin.

–oOo–

Ternyata, tetanggaku itu orang yang rajin. Berbeda jauh dengan gosip yang selama ini berembus di kalangan ibu-ibu. Dia bekerja paruh waktu di tempat fotokopi demi tetap bisa menjalankan kewajiban mencuci, memasak, berbenah rumah, dan semacamnya.

Mengingat kebutuhan rumah tangga tidak sekadar makan dan minum, pastinya penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak akan memadai. Maka menurut informasi dari suamiku, Mas Edwin juga menekuni profesi sebagai penulis, baik dikirim ke media massa atau dirupakan novel.

“Wah, njenengan keren sekali jadi penulis. Honornya pasti lumayan,” ujarku di suatu sore, sambil mengawasi Annisa dan Yuri bergantian bermain sepeda di lapangan.

“Nggak juga, Mbak.”

“Teman saya ada juga yang penulis, lho, Mas. Katanya bayaran cerpen yang naik tayang kisaran 500 ribu sampai 1,8 juta.”

“Itu kalau tembus ke media massa nasional, Mbak. Misal dimuat koran lokal, honornya tidak sampai 300 ribu. Kadang cuma 150. Ya saya bisa maklum. Sekarang orang tidak lagi mau berlangganan koran. Cukup pegang hape langsung dapat gosip terkini atau cerbung. Media massa nyari sponsor juga makin susah.”

“Ooh, gitu.”

“Belum lagi nunggu dimuat itu waktunya lama. Minim kisaran dua sampai tiga bulan. Bahkan bisa setahun misal ngirimnya ke media nasional.”

Aku manggut-manggut.

“Mohon maaf ini, Mbak. Apa njenengan suka baca juga?”

Disuguhi pertanyaan demikian, tak ayal lidah lepas landas dan menuturkan hobiku membaca aneka kisah di salah satu grup kepenulisan terbesar di Indonesia. Mulai dari kisah pelakor yang agak menyerempet kepada adegan ranjang, hingga horor yang meski kadang menakutkan buat dibaca, tapi bikin ketagihan dan penasaran.

“Saya juga bikin novel, lho, Mbak. Konflik rumah tangga yang dibalut intrik perkara warisan.”

Spontan kerongkonganku tercekat. Sepertinya dia mau menawarkan dagangannya. Alhasil aku buru-buru mencari topik pembicaraan lain.

Bukannya tidak tertarik membeli novel karya Mas Edwin. Selain penghasilan suami yang agak pas-pasan, masih ada barang yang sangat ingin kubeli. Sebuah pashmina berikut ponsel low end terbaru. Total butuh 1,3 juta rupiah dan insya Allah dapat terwujud jika bulan ini mampu menyisihkan 200 ribu. Namun, dari mimiknya aku tahu dia kecewa.

“Bapak, aku lapar ….”

Tiba-tiba Annisa menghampiri kami sembari menatap sayu.

“Nissa, kita kan hari ini puasa. Masa kamu lupa? Nanti, ya, makannya nunggu buka puasa.”

Masya Allah. Annisa adalah anak yang luar biasa. Sekarang hari Senin, mungkin mereka berdua sedang berpuasa sunnah.

“Memangnya kita masih punya beras, Pak? Kita nanti buka pakai lauk apa?”

Hah? Apa mungkin aku salah dengar?

“A-ada, kok. Bapak tadi beli beras, lauknya telur. Nanti Bapak bikinkan telur dadar pakai sosis sonais kesukaan kamu.”

“Horeee. Asyiiik!” Dan bocah itu berlalu, kembali mengayun kakinya menuju Yuri.

–oOo–

Malam itu, kala cuaca sedang hujan petir, mendadak suamiku memasuki ruang tamu dengan langkah tergopoh.

“Dek, kamu apa masih nyimpen uang? Lima puluh ribu saja.”

“Memangnya buat apa, Mas?”

“Aku mau nyelawat ke puskesmas dekat sini.”

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Siapa yang meninggal, Mas? Warga sini?”

“Annisa, Dek.”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Sesak pun seolah meremas paru-paru. Ya Tuhan … bagaimana mungkin Annisa bisa meninggal? Baru tadi sore dia dan Yuri bermain bersama.

“Annisa sakit apa, Mas?”

“Dia nggak sakit, Dek. Dia kelaparan dan katanya meninggal dalam tidur menunggu azan Magrib.”

Usai menerima selembar uang 50 ribu, suamiku bergegas pamit untuk menjemput jenazah Annisa ditemani beberapa suami tetangga. Sementara aku hanya mampu duduk membisu di atas sofa. Kontan otak memutar ulang dan mencerna percakapan Mas Edwin dengan almarhumah.

Ya Allah, Ya Rabb ….

Lambat laun benak ini paham apa yang telah terjadi. Pecah isakku melingkupi ruang tamu. Entah kenapa tidak tertahankan, tak peduli apakah nanti tangisku bakal membangunkan Yuri yang sudah lelap di kamarnya.

“Nisa … maafkan Tante, ya. Tante kurang peka sama kamu yang kelaparan. Harusnya Tante tadi mau saja saat ditawari novel sama bapakmu. Sehingga kamu bisa punya uang untuk beli beras, sehingga kamu bisa punya uang buat beli telur, sehingga kamu nggak lapar lagi, sehingga besok kamu masih bisa main sama Yuri ….”

–oOo–

Kejadian hari itu terus terngiang dalam kepala. Hikmah yang dapat kuambil adalah jangan bersikap egois dengan seenak hati menilai keadaan orang lain. Oleh karena apa yang terlintas dalam pikiran belum tentu sama dengan kenyataan. Seumpama aku sudi menyisihkan 100 ribu, kemudian mau bersabar hingga bulan depan lagi untuk membeli barang keinginanku, mungkin Annisa masih menemani Yuri pulang pergi ke sekolah.

Ya, bisa saja Mas Edwin memohon untuk berutang. Namun, aku paham situasinya. Apa jadinya keseharian mereka bila tetangga makin ganas mencerca? Melarat, suka utang, tapi tidak mampu bayar. Bukan tidak mungkin Annisa merasa malu, depresi, lalu mengambil jalan pintas. Selama tidak ada yang pakai nurani, ujung-ujungnya sama.

Di sisi lain, seorang penulis sampai menelurkan buku, tentu bukan perkara sepele. Mereka harus berjuang dan berkompetisi. Belum lagi waktu, tenaga, serta biaya yang dikeluarkan. Semoga saja, tidak lagi kujumpai komentar negatif di lapak para penulis itu. Juga semoga tidak ada lagi kasus serupa Annisa karena aku percaya di luar sana masih banyak pembaca budiman yang kenan mengapresiasi dan membeli buku-buku penulis favoritnya. Toh, siapa pula yang tahu bagaimana keras kehidupan para perangkai aksara demi menghadirkan karya sarat makna, yang lantas tersaji manis begitu saja di layar ponsel penggemarnya?

Satu lagi hikmah yang bisa kupetik. Bahwa hidup tidak melulu soal kebutuhan dan keinginan, tetapi juga empati.

END

By. Ap mahardika

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here