Aneh bin Ajaib

0
109
views

Desa Penger sedang jadi incaran maling. Para maling profesional tak pandang bulu mengincar buruannya. Kaya, miskin, tua, muda … semua dilibas.

Untuk mengatasi kepanikan warga, Kades Penger memerintahkan warga untuk menjaga diri dan rumah masing-masing. “Pasang jendela dan pintu besi. Dikunci dan digembok. Pasang gembok sampai sepuluh di pintu. Lalu, dibalik pintu, sebelum tidur gantungkan panci, periuk, atau kuali agar ketika dibobol maling, bapak ibu segera terbangun karena suara alumunium yang jatuh. Warga harus kompak, saling menjaga. Saling mengingatkan. Tak perlu panik.”

Warga mengikuti anjuran kades mereka. Pertahanan mereka perketat. Namun, ada hal yang janggal. Kades Penger justru membiarkan dan memberikan izin para maling masuk dan tinggal di desa itu.

Warga protes. “Pak Kades, kenapa malingnya justru dikasih izin masuk dan tinggal di desa kita? Sama aja bohong!”

Pak Kades menyunggingkan senyum khasnya. Seperti yang sudah-sudah, jika Kades Penger mengeluarkan senyum khas, maka kata-kata yang keluar dari mulutnya pasti ngawur. “Bapak ibu. Dengarkan saya. Jika keamanan rumah bapak ibu semuanya bagus, bahkan mungkin canggih, percaya ke saya. Maling sekelas Senturi dan Be El Bei pun nggak akan sanggup membobol rumah bapak ibu. Lagipula, mereka udah nggak maling lagi, kok.”

“Pak Kades tau dari mana mereka udah tobat? Bapak bisa jamin?” Warga belum puas dengan penjelasan kades mereka.

Kades lalu memanggil para maling untuk bekumpul dan membuka baju mereka. Kemudian, ia meminta maling-maling itu menunjukkan punggung mereka ke warga.

“Lihat ini. Baca baik-baik apa yang tertulis.”

Warga serentak membaca tulisan dimaksud. ‘Sudah Tobat!’ Mereka saling pandang. Tak hanya itu, para maling juga menunjukkan sertifikat tobat mereka.

“Siapa yang mengeluarkan setifikat tobat mereka, Pak Kades?” Warga tak percaya begitu saja.

“Desa sebelah, Nalait.”

“Ya, ampun. Pak Kades percaya mereka tobat? Sertifikat itu dikeluarin dan mereka dicap tobat oleh desa Nalait, karna mereka nggak mau maling-maling itu tinggal di kampung mereka dan menggasak harta mereka.”

Sebagian warga yang sepenuh jiwa raga menjunjung kades gemas dengan warga yang protes atas tindakan yang diambil.

“Woy! Komodo padang pasir, kalian pikir gampang jadi kades? Lakukan aja apa yang beliau perintahkan untuk kita lakukan. Jaga diri, keluarga, dan rumah kita. Lagipula, kalaupun maling-maling itu nggak diizinkan tinggal, jika memang takdir, ya … kemalingan juga.”

Warga yang protes malas berdebat dengan pecinta ekstrimis kades. Jika ditanggapi, tak akan berhenti hingga 7 generasi. Belum lagi jika mereka mengeluarkan mantera mandraguna untuk menjatuhkan warga yang protes, yaitu umpatan dan makian setajam gigi kades.

Kini, mereka hanya berdo’a semoga maling-maling itu tidak membobol rumah dan mencuri semua harta mereka atau bahkan yang terparah … membunuh warga.

END

by:Ida Ayu Komang

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here