Aku Rentenir

0
97
views

Namaku Winda tapi biasa dipanggil Mama Aurel. Maklum anakku yang duduk di kelas 6 SD IT bernama Aurel. Suamiku karyawan tetap di sebuah pabrik mobil. Aku hanya ibu rumah tangga biasa. Yang tiap hari antar jemput anak sekolah. Tapi jangan salah meski aku cuma ibu rumah tangga tapi soal harta jangan ditanya. Di kampung aku punya kebun kopi yang hasilnya dibagi berdua dengan orang tuaku. Disini aku juga punya kontrakkan sepuluh pintu meski aku beli dan membangun kontrakkan hasil dari pinjam bank.
Meski aku cuma ibu rumah tangga tapi bukan aku tak punya penghasilan. Penghasilanku termasuk lumayan setiap bulannya meski tanpa perlu capek. Bisa kebeli emas 10 gram tiap bulan.

“Mama Aurel pinjam duit dong!” pinta Bu Lia pagi-pagi buta.
“Berapa?” tanyaku masih dengan muka kucel bangun tidur.
“500 ribu saja buat bayar SPP anak saya,” jawab Bu Lia curhat.
Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompet. Di depan Bu Lia kuambil uang 500 ribu dan menyerahkan kepadanya.
“Balikinnya 750 ribu ya.”
“Bunganya gede banget? 50% sendiri,” protesnya.
“Mau ga?” hardikku.
“Iya deh mau,” ujar Bu Lia akhirnya.

Begitulah setiap hari ada saja yang pinjam uang ke aku.Maklum aku sudah cukup terkenal kaya dan tidak sombong. Tentu saja daripada uang aku anggurin mending aku putar pakai bunga. Kan untungnya berlipat-lipat.

______

Aku mupeng melihat perhiasan emas di etalase Enci langgananku. Modelnya bagus-bagus dan kekinian.
“Coba lihat yang ini Ci!” tunjukku pada gelang rantai seberat 10 gram. Aku mencobanya di tanganku.
“Kalau kulit kuning langsat mah pakai apa aja ya cakep,” puji si Enci.
“Ah, Enci bisa aja.” jawabku. ” Aku mau yang ini Ci. Korting ya!” pintaku kemudian.
“Kenapa ga kamu bisnisin saja hobimu beli emas,” ujar si Enci membuatku bingung.
“Maksudnya?”
“Kamu kan bisa kreditin emas ke tetangga atau teman-temanmu,” jawab Enci. “Bentar lagi kan lebaran, pasti banyak yang mau,” lanjutnya menyemangati.
“Iya juga ya Ci,” ucapku paham dengan ide perempuan Cina ini.
“Tenang nanti aku korting ongkos bikinnya. Jadi nanti kamu ga usah bayar ongkos bikin tapi di surat emasnya tetap ditulis ongkos bikin.” Tawaran Si Enci bikin aku girang.

_____

Benar saja kata orang Cina itu. Baru sehari aku bikin status di WA tentang kredit emas, sudah ada 5 orang ibu muda yang pesan kalung dan gelang kepadaku. Kisaran antara 10 gram. Jelas saja aku untung besar. Dan tiap hari ada saja yang kredit emas kepadaku. Mungkin momennya tepat, bentar lagi puasa dan lebaran. Banyak wanita yang ingin kelihatan cantik pas di kampung dengan perhiasan. Atau pingin terlihat kaya karena banyaknya perhiasan di badan, jadi kredit emas diminati .
“Mama kreditin emas?” tanya suamiku sore itu saat aku masih asyik ngitung setoran dari pinjaman riba dan kredit emas.
“Iya yah. Untungnya gede,” jawabku bahagia sambil terus ngitung duit.
“Itu kan ga boleh. Riba jatuhnya,” nasihat suamiku.
“Kata siapa?” tanyaku ga percaya.
“Kata pak ustadz dong.”
“Ustadz yang mana? Mama belum pernah dengar ada ustadz yang bilang kalau kredit emas itu riba,” jawabku ngotot.
“Kata ustadzahnya Aurel kalau beli emas itu harus cash tidak boleh kredit dan harus di hari yang sama,” jawab Aurel tiba-tiba mengalihkan pandangan kami.
“Kamu salah dengar kali,” kilahku masih mempertahankan pendapatku.
“Uang itu fungsinya sama dengan alat tukar jadi ga boleh dikredit harus cash. Kalau dikredit jatuhnya riba Ma,” jawab Aurel lagi membuatku terpojok.
Begitulah anakku. Setiap kajian di sekolah langsung dia bagi kepada kedua orang tuanya. Nilai lebih jika anak sekolah di IT itu ya mendadak anak kita bisa jadi ustadzah. Yang membimbing orang tuanya ke jalan yang benar.

_____

Hari ini aku dibuat geram oleh temanku Siska. Sudah berbulan-bulan dia tidak bayar setoran utangnya. Tiap ditagih jawabannya tar sok tar sok. Sepertinya dia tidak takut dengan bunga yang terus saja berjalan kalau utang tidak dibayar. Maka tak heran jika utangnya ke aku yang semula 6 juta sekarang beranak pinak jadi 12 juta karena tak pernah dibayar meski cuma bunganya.
“Siska, Siska!” Kugedor-gedor pintu rumahnya. Terlihat gerobak nasi ramesnya seperti tak terurus.
“Percuma Mama Aurel digedor-gedor. Mbak Siskanya sudah pergi,” ujar Bu Tari yang kebetulan lewat.
“Pergi kemana?” tanyaku panik.
” Pulang kampung kali. Sejak resmi cerai ma suaminya, dia juga langsung pergi tanpa pamit ke tetangganya.”
Kukepalkan tangan menaham geram. “Kurang ajar aku kena tipu. Berani-beraninya dia bawa uangku kabur,” umpatku dalam hati.

Kubanting buku catatan hutang ke meja makan. Tampak suamiku kaget. Untungnya Aurel lagi tidur siang.
“Mama kenapa sih pulang-pulang ngamuk ga jelas?”
“Sebel, sebel, sebel Yah,” umpatku melepas emosi.
“Sebel kenapa?”
“Siska bawa kabur uangku 12 juta.”
“Kok bisa?” Kali ini suamiku yang kaget.
“Dia pinjam aku 6 juta tapi jarang disetorin. Tau-tau utangnya berbunga jadi 12 juta,” ceritaku.
“O, uang mama yang dibawa kabur cuma 6 juta tho,” jawab suamiku santai.
“Kok 6 juta sih Yah? 12 juta,” protesku.
“12 juta kan sama bunganya. Utang aslinya kan cuma 6 juta.” Suamiku mengurai jawabannya.
“Awas saja! Aku ga rela tujuh turunan uang 12 jutaku dimakan tuh orang,” sumpahku pada Siska.
“Mungkin ini teguran kali Ma, biar mama berhenti jadi rentenir.”
“Maksud ayah?” Aku tersinggung dengan ucapan suamiku.
“Jadi rentenir kan dosa jadi Mama berhenti saja jadi rentenir,” saran suamiku.
“Trus setoran bank mau bayar pakai apa?” tanyaku emosi. ” Gaji ayah kan cuma cukup untuk biaya hidup sehari-hari, sekolah Aurel dan cicilan rumah ini!” tegasku terkesan menyepelekan hasil kerja suami.
“Hasil dari kontrakkan kan bisa untuk setoran bank,” kilah suamiku.
“Kalau kita cuma ngandelin kontrakan kita ga punya tabungan. Orang hidup itu harus punya tabungan. Tuh contohnya orang-orang yang pada pinjam uang ke mama itu orang-orang yang ga punya tabungan. Jadi mereka mikirnya ngutang melulu,” semprotku berapi-api. Sudah tahu aku emosi malah diceramahin. Ya tambah emosiku naik ke ubun- ubun.

____

Pagi ini aku pergi ke pasar dadakan tiap pagi di sekitar rumah bersama Aurel. Aku mendekat ke tukang ayam.
“Sekilo berapa Pak?” tanyaku sambil memilih-milih ayam.
“18 ribu Bu,” jawab tukang ayam yang masih sibuk memotong ayam.
“15 ribu ya!” tawarku.
“Ga bisa Bu, sudah harga pas,” jawab si abang kekeh.
“16 ribu deh sama ati 4 biji ya? Berapa ati?”
“Ati 4, delapan ribu.”
“Atinya goceng saja!” ujarku terus menawar.
“Belum bisa Bu.”
“Ya udah 22 ribu ayam sama atinya!” seruku masih terus menawar.
“Ya udah Bu,” jawab si abang dengan muka memelas.

Aku berjalan ke tukang gorengan. Bakwan dan tempe yang baru digoreng menggoda imanku.
“Berapaan Mbak gorengannya?” tanyaku.
“Seribuan Bu.”
“Dua ribu dapat tiga ya!” tawarku.
“Ga bisa Bu, untungnya kecil,” jawab si mbak memelas.
“Alah timbang gorengan aja. Nih aku beli 4 ribu. Bakwan 3, tempe 3!” hardikku sambil meletakkan uang dengan
kasar. Dengan berat hati si mbak membungkus pesananku.

“Ma, beli pembatas kertas ya!” rengek Aurel ketika melihat mamang mainan.
“Berapa Mang pembatas kertasnya?”
“Dua ribuan.”
“Tiga ribu dapat dua ya!” tawarku.
“Ga bisa Bu!”
“Bisa-bisainlah biar nanti jadi langganan!” paksaku sambil menyodorkan uang tiga ribu. Dengan berat hati si mamang memberikan pembatas kertas ke anakku.

Begitulah aku suka menawar apapun yang ingin aku beli. Karena menawar itu adalah jiwa para perempuan.

____

Aku menyerahkan uang satu juta rupiah ke Ibu Kokom yang menungguku di teras.
“Balikinnya satu juta setengah ya Bu!” ujarku menjelaskan.
“Iya Bu,” jawabnya kemudian berlalu.

Aku masuk dan ikut nimbrung dengan suami dan anakku yang sedang asyik nonton TV.
“Mama rentenir ya?” tanya anakku tiba-tiba yang membuatku kaget.
“Ka…kata siapa?” tanyaku gelagapan sambil melirik suamiku. Tega benar suamiku bilang ke anaknya kalau ibunya rentenir. Sangkaku pada suamiku.
“Itu tadi mama pinjamin uang satu juta trus balikin satu juta setengah. Itu kan rentenir,” jawaban anakku tak bisa membuatku mengelak.
“Itu..itu..biar orang-orang tepat waktu bayar utang Nak,” ujarku mencari alasan.
“Apapun alasannya tetap itu riba dan dosa Ma,” ceramah anakku yang mirip Mama Dede.
“Tuh dengerin anaknya ngomong!” Suamiku ikut menimpali yang bikin aku terpojok. “Mulai sekarang Mama insyaf, akhiri praktek rentenir Mama!” pintanya seperti tak ingin menyia-nyiakan momen indah ini.
Berhenti jadi rentenir? Ga mungkinlah? Keuntungannya saja tiap bulan bisa kebeli emas 10 gram. Belum lagi kredit emas, yang keuntungannya bisa buat manjain diri ke salon. Shoping baju, tas, sepatu branded. Makan enak di restoran. Dan begitu masih ada sisa untuk ditabung.
“Iya deh Mama berhenti jadi rentenir. Tapi tidak sekarang. Mungkin nanti kalau mama udah umur 50 tahun. Tabungan mama sudah banyak jadi mama berhenti deh jadi rentenir. Kalau sekarang kita lagi butuh banyak duit Sayang,” rayuku pada Aurel.
“Lagian Mama masih muda, masih 30 tahunan. Umur Mama masih panjang,” lanjutku kepedean.
“Tapi maut tidak pandang usia. Bisa datang kapan saja tanpa harus menunggu tua.” Jawab Aurel seketika membuatku bisu. Bibirku terasa kelu. Wajah kematian seketika terbayang di pelupuk mata.
“Aku tak ingin Mama meninggal dalam keadaan berlumur dosa riba Ma.” Aurel memelukku.

Aku benarkan semua ucapan Aurel. Aku memang tahu kalau rentenir itu riba. Aku juga tahu jika kredit emas itu juga riba. Tapi keuntungan membuatku silau mata. Ada kebahagiaan sendiri jika aku punya uang banyak. Jadi aku belum siap jika harus meninggalkan profesi rentenir.
“Maafkan Mama Nak jika tidak sejalan denganmu.” Ku balas pelukan anakku.

TAMAT

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here